AKU ADALAH APA YANG AKU KENAKAN: MAKNA PAKAIAN, PENAMPILAN, DAN IMAN KRISTEN
20 Agustus 2025, 09:28

120
Pasti ada di antara kita yang terbiasa menyiapkan pakaian ke gereja, sehari atau bahkan beberapa hari sebelumnya. Alasan orang mempersiapkan sebelumnya supaya tidak tergesa-gesa di hari Minggu, atau agar sempat mix and match outfit (memadu-padankan pakaian) yang sesuai dengan selera masing-masing. Namun tidak sedikit juga yang memilih pakaian beberapa saat sebelum berangkat ke gereja. Setiap orang memiliki alasan tersendiri dan selera yang berbeda. Dalam pemilihan pakaian ke gereja pun ada yang terinspirasi oleh sesuatu atau seseorang, ada yang menyesuaikan dengan tema yang sudah ditentukan di gereja, namun tidak sedikit juga yang mengabaikan penampilan. Lalu, seberapa pentingkah penampilan kita?
Dalam berinteraksi dengan orang lain seperti keluarga, tetangga, teman kerja, klien, bahkan dengan orang yang baru kita temui, kita perlu meninggalkan kesan yang baik terutama ketika pertama kali bertemu atau yang sering disebut first impression. First impression merupakan kesan awal seseorang terhadap orang lain yang dipengaruhi banyak hal, salah satunya adalah penampilan dan cara berpakaian (APA Dictionary of Psychology, 2014) dan biasanya kesan ini cukup melekat. Dapat dikatakan bahwa apa yang kita kenakan merupakan sebuah bentuk komunikasi nonverbal yang kuat.
Menurut Hajo Adam dan Adam D. Galinsky dalam The Journal of Experimental Social Psychology, pakaian memengaruhi bagaimana kita melihat diri kita sendiri dan bahkan orang lain melihat kita. Contohnya ketika kita merasa sedih kita cenderung mengenakan pakaian gelap, tetapi ketika kita ingin memperbaiki mood kita akan mengenakan warna yang lebih cerah. Pada saat menggunakan pakaian tertentu (warna atau motif yang beragam) otak kita akan membuat diri kita berekspresi sesuai dengan makna dari pakaian tersebut. Berikut contoh warna-warna yang memiliki makna dengan pribadi seseorang: Warna merah menggambarkan cinta, pengorbanan, kekuatan, berani, menarik. Warna kuning memiliki makna cerah, bijaksana, terang, bahagia. Cokelat melambangkan kebersamaan, alami, tenang. Hitam menyiratkan duka cita, kematian, resmi, dsb. (Marian L. David, 1987:135). Cara berpakaian, gaya, atau warna yang dikenakan memang dapat merepresentasikan banyak hal tentang kepribadian dan menjadi ekspresi dari nilai, karakter, sikap hidup seseorang.
Penampilan kita adalah bagian dari bagaimana kita mempresentasikan diri kita dan cara pandang kita. Pakaian kita menunjukkan bagaimana kepedulian kita dengan lingkungan sekitar dan bahkan terhadap diri kita sendiri. Pemilihan pakaian akan berbanding lurus dengan tingkat prioritas sesuai penilaian kita. Kita cenderung memilih pakaian yang terbaik jika menghadiri atau bertemu dengan orang yang memiliki prioritas tinggi menurut kita. Karena itu pakaian yang kita kenakan ke gereja bukan hanya soal representasi diri kita, tetapi bagaimana upaya kita menghormati Allah dan tempat ibadah. Pakaian yang kita kenakan mencerminkan rasa hormat terhadap Allah, Rumah Tuhan, jemaat lain dan suasana ibadah itu sendiri. Meskipun kebanyakan gereja tidak memiliki aturan tertulis mengenai cara berpakaian, tetapi kita sebagai jemaat seharusnya mengikuti standar berpakaian yang menunjukan penghormatan. Lalu, bagaimana seharusnya kita berpenampilan saat datang ke gereja?
“Penampilan yang rapi dan sopan sesuai dengan budaya setempat,” ujar Pdt. Helly Hariyanto dalam wawancara dengan tim SB mengenai bagaimana seharusnya kita berpakaian saat datang ke gereja. Menurut penjelasan beliau boleh atau tidaknya seseorang memakai pakaian tertentu sangat dipengaruhi oleh budaya gereja itu sendiri memandang nilai kesopanan. “Kalau gereja itu menganut pola ortodoks, maka perempuan tidak boleh memakai celana panjang, harus memakai rok. Nah, kalau gerejanya sudah menjadi gereja kekinian, maka boleh menggunakan pakaian yang kekinian,” jelas Gembala Sidang GBI Blok Kupat ini. Kita tidak dapat melarang/menilai tingkat kesopanan orang tersebut berdasarkan standar gereja ortodoks karena gereja itu adalah gereja kekinian.
Pdt. Helly menyatakan bahwa dalam Alkitab pun tidak dijelaskan secara eksplisit berkenaan dengan tata cara atau model tertentu dalam berpakaian. Satu hal yang jelas, yaitu harus sopan. Kesopanan harus diukur dari nilai dan norma yang berlaku di masyarakat di mana gereja lokal itu berada. “Kembali kepada gereja itu pantasnya seperti apa. Kalau di situ pantasnya pakai kebaya, ya kenakanlah kebaya, kalau pantasnya pakai yang lain, ya kenakanlah yang lain. Itu yang perlu dipahami oleh kita” demikian tanggapan beliau mengenai pakaian yang pantas untuk dikenakan ke gereja.
Hal ini berbanding terbalik dengan pemikiran kebanyakan anak muda Kristen saat ini. Banyak anak muda Kristen berpikir bahwa berpakaian yang sopan bukanlah hal yang penting, yang terpenting adalah hati. Hal ini separuh benar, karena berdasarkan penjelasan di atas, penghormatan hati kita akan terlihat dari cara kita berpakaian. Jika kita lebih menonjolkan penampilan daripada penghormatan kepada Tuhan itu adalah masalah besar. John Piper dalam bukunya yang berjudul “Jangan Sia-Siakan Hidup Anda” mengatakan bahwa banyak anak muda yang terobsesi dengan pakaian yang sedang populer walaupun tidak nyaman dan terpaksa dikenakan supaya menarik perhatian orang. Mereka mengikuti tren supaya bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar untuk menghindari perundungan secara fisik maupun verbal.
Cara berpakaian kita memang menunjukkan karakter kita, representasi diri kita, gaya atau model apa yang kita sukai, tren apa yang sedang berkembang saat ini dan kita ikuti. Kita boleh berekspresi dengan bebas melalui pakaian yang kita kenakan ke gereja, namun yang perlu diingat adalah bagaimana kita dapat menghormati Tuhan melalui cara kita berpakaian. Jika kita berpikir bahwa cara berpakaian sebagai suatu bentuk pemberian yang terbaik kepada Tuhan, maka pilihlah pakaian terbaikmu (yang terbaik bukan berarti harus mahal dan bermerek), namun yang sesuai nilai-nilai Firman Tuhan dan norma kesopanan budaya setempat.
Penulis: Eligracea
Editor: Eliezer K. F.
Belanja
Akun
Sumber
Support
Copyright © 2026 Kabaria