BELAJAR DARI PRIBADI YOHANES PEMBAPTIS (BAGIAN 1)
25 Juli 2025, 09:32

32
Ruang Guru Sekolah Minggu
Iswara Rintis Purwantara")
Sesuai pesan malaikat Gabriel kepada Zakharia (Luk 1:13; band 1:60, 63), namanya adalah Yohanes -kata Yunani untuk Yokhanan. Alkitab TB LAI menerjemahkan Markus 1:4 dengan menyebutnya Yohanes Pembaptis (band. Alkitab NRSV, baptizer). Mungkin untuk membedakannya dari Yohanes Yohanes yang lain (pada abad pertama Masehi, Yohanes adalah nama umum orang Yahudi).
Sejauh yang kita ketahui, Yohanes adalah anak laki-laki satu-satunya dari Zakharia, seorang imam dari rombongan Abia dan Elizabeth. Selebihnya. Anda semua tahu ceritanya (lih. Luk 1:5-25, 57-80) Sama seperti tokoh-tokoh Alkitab yang lain, Yohanes dapat dipelajari dari berbagai sisi. Salah satunya adalah sisi kepribadiannya. Pertanyaannya adalah apa yang dapat kita pelajari dari pribadi Yohanes? Kualitas apa saja yang ada di dalam dirinya yang patut kita teladani? Yohanes adalah Orang yang Tahu akan Identitas Dirinya Kualitas pertama yang harus kita teladani dari pribadi Yohanes adalah pengenalannya akan siapa dirinya Yohanes mengetahui dengan jelas identitas dirinya. Sebenarnya Yohanes tampil di tengah-tengah situasi yang rawan identitas setidak-tidaknya bagi orang seperti dirinya. Mengapa?
Berabad-abad lamanya, sejak Nabi Maleakhi, tidak terdengar nubuat. Allah tidak lagi berfirman langsung melalui suara manusia kepada umat-Nya untuk menyatakan kehendak Nya Orang Yahudi, yang secara politis sedang dijajah bangsa kafir, sedang berada dalam suasana pengharapan eskatologis, khususnya penantian akan datangnya Mesias. Sang Pembebas yang dijanjikan di dalam Kitab Suci (sekarang kita menyebutnya Perjanjian Lama) Tidak heran jika segera setelah Yohanes tampil, mereka langsung bertanya-tanya siapakah sebenarnya dirinya.
Beberapa imam dan orang Lewi bertanya kepada-Nya, "Siapakah engkau? (Yoh 1:19). "Kalau begitu, siapakah engkau? Elia?" "Engkaukah nabi yang akan datang?" (Yoh 1:21). "Siapakah engkau? Sebab kami harus memberi jawab kepada mereka yang mengutus kami. Apakah katamu tentang dirimu sendiri? (Yoh 122) Orang-orang Farisi juga bertanya, "Mengapakah engkau membaptis, jikalau engkau bukan Mesias. bukan Elia dan bukan nabi yang akan datang?" (Yoh 1:25).
Yohanes bisa saja mengaku-noaku kalau dirinya adalah Mesias atau Kristus yang dijanjikan itu, sama seperti la bisa mengaku-ngaku Elia, atau nabi yang akan datang pakaiannya yang terbuat dari bulu unta (Mat 3:4 Mrk 1:6) menunjukkan gaya profetis yang merupakan ciri khas para nabi. khususnya Elia (lih. 2 Raj 1:8 Za 13:4). Bagaimana tidak?
Dirinya sangat mirip clengan Yesus Chanya beda-beda tipis). Umur mereka hanya selisih enam bulan (Luk 1:56). Sama seperti Yesus, pekerjaan Yohanes dinubuatkan para nabi (misalnya Markus 12 adalah kutipan dari Maleakhi 3:1, Markus 13 adalah kutipan dan Yesaya 40:3). Sama seperti Yesus. kelahiran Yohanes dinubuatkan malaikat dan namanya sudah dipersiapkan jauh jauh hari sebelum ia dilahirkan. Yohanes bahkan sudah penuh dengan Roh Kudus sejak masih di dalam kandungan Ibunya (Luk 1:15) la berkhotbah dengan berwibawa, dan membaptis. Tidak heran jika orang-orang Yahudi berpikir dan bertanya-tanya kalau-kalau ia adalah Mesias yang sedang mereka harap harapkan kedatangannya itu (Yoh 121 25)
Namun, apa jawaban Yohanes? Apa yang ia katakan tentang dirinya?
Yohanes dengan tegas menyangkal kalau dirinya adalah Mesias "Aku bukan Mesias" katanya (Yoh 1:20). Dan, aku telah berkata: Aku bukan Mesias, tetapi aku diutus untuk mendahului-Nys" (Yoh 3:28) la juga menyangkal kalau dirinya adalah Elia atau nabi yang akan datang. Dua kallia menjawab "Bukan (Yoh 12:10 Markus 17-8 (band. Mat 3:11-12) mencatat bagaimana Yohanes dengan tegas menjelaskan perbedaan identitas antara dirinya dan Yesus. Perhatikan kata-kata ganti orang pertama tunggal aku ku aku, aku yang la gunakan untuk dirinya dan kata ganti orang ketiga tunggal la. Nya. 'la yang ia gunakan untuk Yesus. Yohanes tidak mau orang mengira kalau dirinya adalah Mesias Yohanes adalah Yohanes. Yohanes bukanlah Yesus.
Sebagal bagian dari bangsa Yahudi yang sedang dijajah bangsa kafir, Yohanes tahu, apa berita yang ingin didengarkan orang-orang sebangsanya itu. Namun ia tidak mau mengatakan kepada mereka apa yang ingin mereka dengar, demi diterima oleh mereka la lebih memilih mengatakan apa yang Allah ingin untuk la katakan, meskipun risikonya adalah penolakan. Ini terlihat dari kata-katanya yang pedas lebih mirip sebuah kutukan) terhadap para pemimpin Israel.
la menyebut para pemimpin agama bangsa itu keturunan ular beludak, bukan keturunan Abraham, dan memperingatkan mereka bahwa mereka tidak dapat melarikan diri dan murka yang akan datang (Mat 37-9, Luk 37-8), "Kapak sudah tersedia pada akar pohon, dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api demikian ia mengingatkan mereka (Mat 310, Luk 39) Kualitas pribadi Yohanes ini merupakan teguran bagi banyak orang Kristen dewasa ini yang begitu suka akan penerimaan dan pengakuan dari orang-orang lain di sekitar mereka, lebih daripada melakukan apa yang benar di mata Allah. Mereka mengalami krisis identitas. Begitu inginnya mereka akan pengakuan dan orang lain sampai-sampai berani mengorbankan identitas diri mereka: mau menjadi siapa pun dan apa pun yang orang lain inginkan, mau mengatakan dan melakukan apa pun yang orang lain inginkan Sebab dan Akibat-akibat Krisis Identitas Penyebab utama krisis identitas adalah keinginan berlebihan untuk mendapatkan pengakuan atau usaha yang terlalu keras untuk diterima "dunia" Menurut Charles Stanley, orang vang terus-menerus dan dengan semangat berkobar mencari pengakuan orang lain, hidup dengan krisis identitas Mereka tidak tahu siapa diri mereka. Mereka didefinisikan menurut apa yang orang lain pikirkan tentang diri mereka.
Celakanya, kalau ketenteraman Anda di bangun di atas pengakuan orang lain, pribadi Anda akan terpecah-pecah. Anda akan terjebak dalam sebuah siklus mencoba menyenangkan setiap orang, sampai Anda tiba pada suatu titik di mana Anda tidak menyenangkan siapa pun lagi, terutama Allah. Anda akan kelelahan, lalu kalah. Memangnya pengakuan berapa banyak orang yang Anda anggap memadai?
Anda tidak dapat menjadi orang yang utuh sambil membiarkan orang-orang lain mendikte Anda. Kalau nilai diri Anda ditentukan oleh apa yang orang-orang lain pikirkan, nilai diri Anda menjadi tidak menentu, Anda tidak akan pernah tahu bagaimana nilai diri Anda
Puncak dan keinginan untuk diakui adalah mengkompromikan nilai-nilai serta keyakinan kita. Ini sama seperti perilaku sebagian pemimpin agama Yahudi pada zaman Yesus yang percaya kepada-Nye, tetapi karena orang-orang Fansi mereka tidak mengakuinya berterus terang, supaya mereka jangan dikucilkan. Sebab mereka lebih suka akan kehormatan manusia daripada kehormatan Allan (Yoh 12:42-43) Sebagian orang Kristen begitu sibuk mencoba menyamakan diri meraka dengan orang lain dengan dunia. Akibatnya mereka tidak bisa diperhitungkan sebaga saksi Tuhan Tidak ada kuasa dalam kesaksian mereka Baik Alkitab maupun pengalaman Sumber Gambar Freebibleimageorg mengajarkan bahwa kita akan membayar sangat mahal ketika mencoba melanggar hati nurani dan mengkompromikan Firman Allah demi mendapatkan penerimaan dan pengakuan orang lain. Pikirkanlah: berapa banyak orang kecanduan alkohol karena mereka tidak ingin menjadi satu-satunya orang di pesta yang tidak memegang gelas minuman? Berapa banyak orang yang kecanduan obat-obat terlarang karena demikian putus asa ingin diakul? Berapa banyak gadis dan pria belasan tahun yang jatuh ke dalam dosa seksual karena ingin mengesankan orang lain? Berapa banyak anak muda yang masuk menjadi anggota sebuah geng jalanan karena begitu menginginkan penerimaan? Berapa banyak orang yang terlilit hutang karena ingin memiliki pakaian sebagus pakaian orang lain, hidup di rumah sebagus rumah orang lain, mengendarai mobil sebagus mobil orang lain? Salomo adalah contohnya. Tidak ada orang yang pernah diangkat begitu tinggi (baca 1 Raj 10:23-24), lalu jatuh begiturendah. Karena ingin mendapatkan pengakuan, Salomo lupa akan identitas diri dan bangsanya.
Akhimya bangkrut secara moral dan rohani. Pengalaman Salomo mengajarkan bahwa Anda tidak bisa menjadi seorang pemimpin yang baik kalau Anda berusaha menyenangkan semus orang Ingat, seorang "hamba Tuhan" dipanggil untuk membuat umat menjadi kudus, bukan untuk membuat mereka menjadi senang Solusi bagi Krisis Identitas Sebenarnya, menginginkan orang lain menyukai kita adalah alami. Tidak ada yang salah dengan hal itu. Masalah akan muncul ketika kita menilai pengakuan orang lain lebih penting dari pengakuan Allah. Keinginan kita itu menjadi tidak seimbang, tidak proporsional Apa sih yang kita dapatkan ketika kita memperoleh pengakuan dari orang lain? Jujur saja, tidak ada, baik yang berwujud atau yang bersifat permanen. Ingat, tak ada seorang pun yang dapat memenuhi kekosongan di dalam hidup Anda seperti halnya Allah. Mutlak tak seorang pun Puji Allah, karena sama seperti Yohanes Pembaptis, kita sedang melayani Dia yang mengakui dan menerima kita apa adanya, tanpa syarat. "Allah tidak memanggil orang yang memenuhi syarat, la menjadikan memenuhi syarat orang yang dipanggil-Nya. Kita tidak perlu berprestasi terlebih dahulu agar Allah mau menerima kita. la telah menegaskan nilai diri kita ketika mengutus Anak-Nya tintuk mati menggantikan kita.
Roh Kudus tinggal di dalam diri kita Mengapa kita sampai membutuhkan orang lain untuk menegaskan apa yang telah kita ketahui? Jadi apa solusi bagi kisis identitas? Anda perlu menegaskan kembali, siapa diri Anda seorang Anak Allah. Bagi Allah Anda berharga, seperti biji mata-Nya sendiri (Ul 32:10: Mzm 17:8: Zak 2:83. Anda diterima. Anda dikasini Dalam skala satu sampai sepuluh. Allah menganggap Anda sepuluh Pengakuan atau penerimaan siapa lagi yang Anda butuhkan? Alkitab berkata, "Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini" (Rm 12:23. Atau seperti yang dikatakan oleh suatu terjemahan, "Jangan biarkan dunia sekeliling Anda memasukkan Anda dengan paksa ke dalam cetakannya (Phillips) Kita tidak boleh bernyanyi seperti Stevie Wonder, "We are the world" Sebaliknya, kita harus dituang ke dalam cetakan Tuhan Yesus Kristus, menjadi serupa dengan gambar-Nya. Oswald Chambers berkata. Jika seseorang menarik karena kepribadiannya. daya tariknya hanyalah sejauh hal itu jika da dikenal karena kepribadian Tuhannya. maka daya tariknya adalah sejauh apa yang dapat dilakukan oleh Yesus" Yang Yesus minta adalah...carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya," (Mat 6:33), bukannya "carilah dahulu pengakuan atau penerimaan dari orang-orang lain di sekitar Arida.
Di surga nanti Yesus tidak akan bertanya, "Seberapa banyak orang yang menyukaimu di bawah sana? Apakah engkau sudah menyenangkan setiap orang?" Tidak. Yang la perhatikan lalah seberapa jauh kita telah menyenangkan Dia Ketika Raja Edward VIII (Duke of Windsor terakhir) masih kecil, ayahnya, Raja Geroge VI, selalu menegurnya setiap kali ia melakukan kesalahan Kata-katanya adalah, "Anakku, engkau harus selalu ingat siapa engkau ia senantiasa Hanya jika mengingat bahwa is adalah pangeran kerajaan yang ditakdirkan bagi takhta kerajaan, ia akan bersikap tepat dan tidak berlaku sembarangan Jadi, siapakah kita? Itulah pertanyaan pentingnya. Dengan tegas Yohanes menjelaskan identitas dirinya, Akulah suara orang yang berseru-seru di padang gurun. Luruskanlah jalan Tuhan! Seperti yang telah dikatakan nabi Yesaya" (Yon 1:23). Sekarang, siapakah Anda?
Penulis adalah dosen Sekolah Tinggi Teologi Baptis Indonesia (STBI) Semarang
Editor: Prisetyadi Teguh Wibowo
Belanja
Akun
Sumber
Support
Copyright © 2026 Kabaria