BELAJAR DARI PRIBADI YOHANES PEMBAPTIS BAGIAN 2
25 Juli 2025, 09:05

173
(BAGIAN 2)
Iswara Rintis Purwantara *)
Pada Bagian 1 kita telah mempelajari salah satu kualitas penting yang ada di dalam diri Yohanes: ia adalah orang yang tahu akan identitas dirinya. Pada Bagian 2 ini kita akan mempelajari satu lagi kualitas penting yang ada di dalam dirinya.
Kualitas apakah itu?
Yohanes adalah Orang yang Tahu akan Tujuan Hidupnya
Inilah kualitas kedua yang bisa kita pelajari dari pribadi Yohanes: pengertiannya yang jelas akan tujuan hidupnya. Yohanes sangat menyadari tujuan Allah melalui keberadaan dirinya di dunia ini. Ia tahu akan tugas-tugasnya yang unik, yang ia terima dari Allah.
Apakah tujuan hidup Yohanes? Pertanyaan ini dapat dijawab dari dua perspektif: vertikal dan horizontal.
Secara vertikal, Yohanes sadar bahwa ia dilahirkan untuk menjadi seorang pembuka jalan bagi Tuhan. Yohanes ada untuk mempersiapkan jalan bagi kedatangan Yesus. Ia berkata, “Akulah suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Luruskanlah jalan Tuhan! Seperti yang telah dikatakan nabi Yesaya” (Yoh 1:23). Yohanes sadar bahwa ia hidup untuk menggenapi nubuat para nabi. Jika Yesus adalah Perintis jalan bagi kita untuk masuk ke dalam surga kelak (lih. Ibr 6:19-20), Yohanes adalah perintis jalan bagi Yesus ketika Ia masuk ke dalam dunia ini 2000 tahun yang lalu.
Secara horizontal, Yohanes sadar kalau ia dilahirkan untuk menjadi seorang pemimpin masa transisi. Ia hadir di dunia ini untuk menyiapkan orang-orang memasuki sebuah era baru. Sama seperti Musa yang membawa umat Israel sampai ke perbatasan tanah yang dijanjikan tanpa memasukinya (hanya memandangnya di kejauhan dari puncak Pisga – Ul 3:27), Yohanes berada di ambang pintu era yang baru itu tanpa ia sendiri masuk ke dalamnya (Mat 11:12-13; Luk 16:16). Yohanes adalah nabi Perjanjian Lama terakhir. Ia berdiri di antara dispensasi Perjanjian Lama dan dispensasi Perjanjian Baru.
Lalu, apa yang harus Yohanes lakukan untuk menggenapi tujuan-tujuan tersebut? Apa saja tugas-tugas unik yang Allah minta untuk ia kerjakan?
Pertama-tama, Yohanes harus mempersiapkan suatu umat (yang hatinya bertobat) bagi Yesus. Ia berseru, “Bertobatlah sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!” (Mat 3:2) dan “Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu” (Mrk 1:4) Ia juga berkata, “…hasilkanlah buah-buah yang sesuai dengan pertobatan” (Luk 3:8a).
Sama seperti Elia, Yohanes harus memimpin kebangunan rohani di antara umat-Nya (Mat 11:14). Kabar baik tentang kedatangan Mesias dimulai dalam suatu pembangunan spiritual, moral dan religius, bukan nasionalistis, politis dan materialistis; dengan persiapan hati, bukan persiapan secara lahiriah.
Masih ada satu lagi tugas unik Yohanes yang harus ia kerjakan untuk menggenapi tujuan Allah bagi hidupnya. Apakah itu?
Julukannya adalah ‘Yohanes Pembaptis’
Namanya, sesuai dengan pesan malaikat Gabriel kepada Zakharia (Luk 1:13) adalah Yohanes. Namun, tahukah Anda bahwa kecuali di dalam Injil Yohanes, di semua kitab Injil, Yohanes juga dijuluki sebagai ‘Yohanes Pembaptis’? Dalam Matius pasal 11 misalnya. Yesus, selain menyebutnya dengan nama ‘Yohanes’ saja (ayat 4, 13, 18), juga menjulukinya ‘Yohanes Pembaptis’ (ayat 11, 12). Dan memang, itulah tugas unik Yohanes: membaptis (ke dalam air) orang-orang yang bertobat.
Yohanes berkata, “Aku membaptis kamu dengan air sebagai tanda pertobatan….” (Mat 3:11a). Bagi Yohanes, ini adalah tugas yang ia terima dari Allah. Ia berkata, “…tetapi Dia, yang mengutus aku untuk membaptis dengan air….” (Yoh 1:33). Aktivitas Yohanes membaptiskan inilah yang menjadi titik permulaan bagi pemberitaan rasuli (lih. Kis 10:37; 13:24).
Saya sering berkelakar di hadapan para mahasiswa saya: “Yohanes Pembaptis adalah satu-satunya ‘’orang Baptis’ yang tidak pernah dibaptis.” Bagaimana tidak? Yohanes membaptis orang-orang lain. Bahkan Yesus pun dibaptis olehnya. Namun ia sendiri tidak pernah dibaptis!
Kalau Anda bertanya kepada saya, “Siapakah yang membaptis Bapak?” saya akan menjawab, “Pendeta Guntur Subagyo.” Kemudian kalau Anda bertanya kepada Pendeta Guntur, “Siapakah yang membaptis Bapak?” ia akan menjawab “Pak X.” Kalau Anda bertanya kepada Pak X, “Siapa yang membaptis Bapak?” ia akan menjawab “Pak S.” Kalau Anda terus bertanya seperti itu, Anda akan sampai pada seseorang yang dijuluki ‘Yohanes Pembaptis.’ Ia tidak akan pernah memberi tahu Anda siapa yang telah membaptis dirinya ke dalam air.
Perhatikan: sesuai dengan penegasan Yohanes sendiri, tugasnya adalah membaptis dengan air. “Aku membaptis kamu dengan air sebagai tanda pertobatan, tetapi Ia yang datang kemudian dari padaku lebih berkuasa dari padaku…. Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus….” (Mat 3:11). Membaptis dengan (atau dalam terjemahan yang lebih tepat: ‘dalam’) Roh Kudus adalah tugas dan wewenang Yesus, bukan Yohanes.
Sangat disayangkan bahwa ada sebagian pendeta masa kini yang, demi meraih pengikut, mencoba untuk merebut hak prerogative Yesus ini: mengaku-ngaku bisa membaptis orang dalam Roh Kudus. Tetapi seperti yang kita lihat, Yohanes tidak melakukannya. Mengapa? Karena ia tahu persis apa yang menjadi tujuan hidupnya. Ia sungguh-sungguh memahami tugas yang Allah berikan kepadanya (ingat, di dalam Perjanjian Baru baptisan air diperintahkan; baptisan Roh Kudus tidak).
Kualitas pribadi Yohanes ini adalah teguran bagi banyak orang Kristen masa kini yang hidup tanpa pengertian dan kesadaran akan tujuan Tuhan bagi, dan melalui, hidup mereka. Mereka hidup untung-untungan. Kalau mereka memiliki prioritas, paling-paling itu ditentukan oleh sang bos, dokter atau psikiater, pemberi pinjaman kredit dari bank, penasihat hukum, atau guru sekolah anak. Waktu, tenaga, uang, pikiran dan emosi mereka terkuras hanya karena tekanan-tekanan keadaan, suasana hati, dan orang-orang lain di sekitar mereka.
Sebab dan Akibat-Akibat dari Ketidaktahuan akan Tujuan Hidup
Thomas Charlyle berkata, “Seseorang tanpa tujuan adalah seperti sebuah kapal tanpa kemudi – seorang anak terlantar; seorang yang tak ada artinya, seorang yang hampa.” Sebaliknya, tujuan akan memotivasi dan menggairahkan hidup. Pertanyaannya adalah, mengapa ada banyak orang Kristen yang tidak tahu apa tujuan hidup mereka? Mengapa mereka tidak memahami maksud khusus Allah bagi, di dalam, dan melalui hidup mereka?
Jawabannya adalah karena mereka berangkat dari titik awal yang salah – diri mereka sendiri: “Aku mau menjadi seperti apa?” “Apa yang harus aku lakukan untuk diriku?” “Apa cita-citaku, ambisi-ambisiku dan mimpi-mimpiku”?
Banyak orang yang mencoba memanfaatkan Tuhan untuk mewujudkan ambisi-ambisinya sendiri. Mereka telah gagal sejak awal. “Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu” (Yes 55:8).
Ingatlah bahwa Anda dibuat untuk Tuhan, bukan sebaliknya. Hidup Anda adalah tentang Tuhan memakai Anda untuk menggenapi tujuan-tujuan-Nya, bukan tentang Anda memakai Dia untuk tujuan-tujuan diri Anda.
Tidak memahami tujuan spesifik Allah bagi hidup Anda berarti menyia-nyikan waktu yang harus Anda pertanggung jawabkan kepada Allah untuk hal-hal yang tidak penting. Anda tidak akan pernah fokus. Seorang bijak mengatakan, “Jika Anda tidak memiliki sasaran, Ada pasti mencapainya setiap kali.” Anda akan terus mengembara, mengubah-ubah arah, sambil berharap tiap perubahan tersebut akan meredakan kebingungan yang ada, atau mengisi kekosongan di hati Anda. Anda berpikir, mungkin kali ini akan berbeda. Dalam kenyataannya, sama saja.
Ingat, ada lebih banyak pemimpin yang gagal karena tidak memiliki tujuan daripada karena tidak mempunyai bakat. Sebegitu pentingnya disiplin, namun tanpa tujuan, ia hanya akan menjadi sesuatu yang meletihkan.
Sebaliknya, orang yang memiliki tujuan hidup akan memiliki pondasi yang kokoh yang akan mendasari setiap keputusan yang ia buat dan penggunaan waktu serta sumber-sumber yang ia miliki. Ia akan lebih tenang, lebih mampu menempatkan dirinya dimanapun Tuhan menaruhnya.
Ketika Yesus mulai lebih populer dari Yohanes, murid-muridnya mengeluh, “Rabi, orang yang bersama dengan engkau di seberang sungai Yordan dan yang tentang Dia engkau telah memberi kesaksian, Dia membaptis juga dan semua orang pergi kepada-Nya” (Yoh 3:26). Namun dengan tenang Yohanes menjawab, “Tidak ada seorang pun yang dapat mengambil sesuatu bagi dirinya, kalau tidak di karuniakan kepadanya dari surga” (Yoh 3:27). Yohanes sama sekali tidak iri hati. Mengapa? Karena ia tahu akan tujuan hidupnya! Ia tahu bahwa Allah-lah yang merancang tujuan yang unik dan khusus untuk setiap orang!
Berbeda dengan kebanyakan pemimpin masa kini yang sering mengalami post power syndrome, atau menderita megalomaniac syndrome (ingin menjadi yang paling besar), Yohanes, dengan kebesaran jiwanya, sanggup menempatkan dirinya pada posisi nomor dua. Ia berkata, “Ia (Yesus) harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil” (Yoh 3:30). Bagi Yesus, meskipun Yohanes menjadi yang terkecil di dalam Kerajaan Surga, dalam penilaian Allah ia adalah yang terbesar (Mat 11:11).
Perhatikan bahwa ‘menjadi sukses’ dan ‘memenuhi tujuan hidup’ adalah dua hal yang berbeda. Anda dapat meraih seluruh cita-cita pribadi Anda, menjadi orang yang luar biasa sukses menurut ukuran dunia, dan masih tetap salah menanggapi tujuan spesifik Allah bagi hidup Anda. Anda dapat memilih karier Anda, pasangan hidup, hobi, dan banyak hal lain dalam hidup Anda. Tetapi Anda tidak dapat memilih tujuan hidup Anda. Jadi?
Bagaimana Mengenali Tujuan Hidup Anda?
Berbicara mengenai tujuan hidup berarti sedang berbicara mengenai tujuan Allah menciptakan Anda, sebab “…segala sesuatu diciptakan oleh dia dan untuk Dia” (Kol 1:16b), Allah yang dengan Roh dan firman-Nya telah melahir-barukan Anda (Yak 1:18; 1 Pet 1:23), Allah yang telah memilih Anda sejak kandungan ibu Anda (Gal. 1:15).
“Ini bukanlah tentang diri Anda,” demikian kata Rick Warren. Bahkan orang atheis seperti Bertrand Russell pun mengakui, “Kecuali Anda menganggap Allah itu ada, pertanyaan mengenai tujuan hidup menjadi tidak berarti.”
Alkitab berkata, “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman Tuhan….” (Yer 29:11). Benarlah apa yang dikatakan oleh Albert Einstein, “Tuhan tidak bermain dadu.”
Jadi apa solusi dari ketidaktahuan akan tujuan hidup Anda? Jawabannya adalah: Anda harus mengawalinya dengan Tuhan. Tidak ada cara lain!
Bertanyalah kepada Tuhan, apa tujuan spesifik-Nya bagi hidup Anda. Dengan bimbingan Roh Kudus, bacalah firman-Nya. Dengarkanlah suara-Nya melalui orang-orang beriman (anggota tubuh Kristus) di sekeliling Anda. Jangan berspekulasi, menduga-duga atau menebak-nebak tujuan hidup Anda berdasarkan dorongan perasaan bersalah, kemarahan, rasa takut, rasa gengsi, materialisme, hasrat menggebu untuk diterima atau diakui, dan seterusnya.
Ketika Alkitab berkata, “Hati manusia memikirkan jalannya, tetapi TUHANlah yang menentukan arah langkahnya” (Ams 16:9), itu bukan berarti bahwa Anda tidak perlu membuat rencana dan menetapkan tujuan hidup; itu berarti bahwa Anda, dari waktu ke waktu, perlu menyesuaikan tujuan-tujuan Anda ketika Allah mengungkapkan rencana-Nya bagi hidup Anda.
Evaluasilah, apa saja yang menjadi prioritas Anda selama ini? Apa yang paling sering Anda doakan selama ini? Ingat, ketika Anda menjadi orang Kristen, prioritas Anda juga berubah, dan perubahan itu akan terus berlangsung seiring dengan pertumbuhan rohani dan tingkat kedewasaan hubungan Anda dengan Dia.
Ketika Anda merenungkan hidup Anda, dapatkah Anda mengatakan: “Saya sedang mengisi hidup saya dengan melakukan dan mendahulukan hal-hal yang benar-benar penting”? Atau sebaliknya, Anda malah sedang membiarkan dunia menetapkan agenda kehidupan Anda. Selanjutnya, “Apakah aktivitas saya sekarang ini membantu saya memenuhi salah satu tujuan Allah bagi hidup saya? Apakah waktu-waktu hidup saya di bumi ini benar-benar layak untuk saya jalani?”
Lebih dari siapapun, kita harus belajar dari Yesus. Ketika hidup di dunia ini 2000 tahun yang lalu, Yesus paham benar mengapa Ia ada di sana. Ia tahu ke mana Ia harus pergi, serta bagaimana ia mencapai tujuan akhir-Nya. Yesus bahkan sudah menyatakan ‘takdir’-Nya pada usia 12 tahun! Ia menjelaskan kepada kedua orang tuanya, “Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?” (Luk 2:49).
Sekarang, apa ‘takdir’ Anda?
Belanja
Akun
Sumber
Support
Copyright © 2026 Kabaria