Berkhotbah kepada Orang-orang yang Acuh Tak Acuh, Ragu-ragu, dan Berdosa
18 Maret 2025, 07:44

89
Artikel Teologi
BERKHOTBAH KEPADA ORANG-ORANG YANG ACUH TAK ACUH, RAGU-RAGU DAN BERDOSA
Mark Dever*)
Saya sering mendengarkan pertanyaan, “Bagaimanakah Anda menerapkan (aplikasikan) nas Alkitab di dalam sebuah khotbah eksposisi?”
Di balik pertanyaan ini mungkin ada banyak asumsi yang dipersoalkan. Si penanya mungkin sedang teringat khotbah-khotbah “eksposisi” yang telah didengarnya (atau mungkin dikhotbahkannya) yang tidak ada bedanya dari beberapa ceramah Alkitab di seminari—yang tersusun rapi dan akurat tetapi menunjukkan sedikit dorongan kesalehan atau hikmat pastoral. Jika ada, khotbah-khotbah eksposisi ini mungkin memiliki sedikit penerapan. Di lain pihak, si penanya mungkin sekadar tidak tahu bagaimana mengenali penerapan ketika dia mendengarkannya.
William Perkins, teolog besar abad XVI di Cambridge, menasihati para pengkhotbah untuk membayangkan berbagai macam pendengar dan berpikir melalui penerapan bagi masing-masing—orang berdosa yang mengeraskan hati, orang yang ragu-ragu, orang saleh yang keletihan, orang muda yang antusias, dan seterusnya.
Nasihat Perkins sangat berguna, tetapi berharap bahwa kita sudah melakukan hal itu. Saya ingin membuat pendekatan yang sedikit berbeda dengan topik penerapan ini: tidak hanya ada berbagai macam pendengar, tetapi juga ada berbagai macam penerapan. Ketika kita mengambil sebuah nas dari Firman Allah dan menjelaskannya dengan jelas, menarik, bahkan mendesak, paling sedikit ada tiga macam penerapan yang berbeda, yang mencerminkan tiga macam persoalan yang berbeda, yang dihadapi dalam perjalanan hidup orang Kristen. Pertama, kita bergumul di bawah wabah ketidaktahuan. Kedua, kita bergulat dengan keraguan, lebih sering ketimbang ketika pertama kali kita menyadarinya. Ketiga, kita masih bergumul dengan dosa—entah melalui tindakan ketidaktaatan yang langsung atau melalui sikap berdosa acuh tak acuh. Sebagai pengkhotbah, kita rindu untuk melihat perubahan di dalam ketiga hal ini, dalam diri kita dan di dalam hidup pendengar kita. Dan ketiga masalah ini masing-masing memunculkan penerapan yang berbeda.
ACUH TAK ACUH
Sikap acuh tak acuh adalah sebuah masalah yang mendasar di dalam dunia yang berdosa ini. Kita telah memutuskan diri dari persekutuan yang langsung dengan Pencipta kita. Maka tidaklah mengejutkan bahwa memberitahu orang-orang kebenaran tentang Allah itu sendiri merupakan suatu jenis penerapan—dan salah satu yang sangat kita butuhkan.
Hal ini bukanlah dalih bagi khotbah-khotbah yang dingin atau tanpa belas kasihan. Saya sepenuhnya dapat menjadi (bahkan lebih) bersemangat baik oleh kalimat-kalimat pernyataan maupun kalimat-kalimat perintah. Perintah Injil untuk bertobat dan percaya tidak berarti apa-apa jika terlepas dari pernyataan indikatif tentang Allah, diri sendiri, dan Kristus. Informasi adalah vital. Kita dipanggil untuk mengajarkan kebenaran dan memberitakan sebuah pesan agung tentang Allah. Kita ingin orang-orang yang mendengarkan pesan kita untuk beralih dari acuh tak acuh menjadi berpengetahuan tentang kebenaran. Informasi tulus yang demikian adalah penerapan.
RAGU-RAGU
Ragu-ragu berbeda dari acuh tak acuh. Dalam ragu-ragu kita mengambil ide atau kebenaran yang lazim bagi kita dan kita mempersoalkannya. Kenyataannya, keragu-raguan mungkin menjadi salah satu isu yang paling penting untuk digali secara serius dan ditantang dengan serius dalam khotbah kita. Beberapa orang yang duduk mendengarkan khotbah minggu demi minggu mungkin mengetahui dengan baik semua fakta yang disinggung oleh pengkhotbah tentang Kristus atau Allah atau Onesimus; tetapi mereka mungkin juga telah bergumul dengan apakah mereka sungguh-sungguh percaya atau tidak terhadap fakta-fakta tersebut sebagai benar. Kadang-kadang orang mungkin bahkan tidak sadar tentang keraguan mereka, apalagi bisa mengartikulasikannya sebagai keraguan.
Tetapi ketika kita mulai mempertimbangkan Alkitab dengan menyelidikinya, kita mendapati diri berlama-lama dalam pertanyaan bayangan, ketidakmenentuan, dan keengganan, semua hal yang membuat kita dengan sedih sadar akan tarikan gravitasi keraguan yang di kejauhan sedang menarik kita menjauh dari perjalanan musafir yang setia. Bagi orang-orang yang demikian—mungkin kepada bagian hati kita sendiri—kita ingin menegaskan dan mendorong kebenaran dari Firman Allah dan urgensi untuk memercayainya. Kita dipanggil untuk mendesakkan kepada pendengar kebenaran dari Firman Allah. Kita ingin orang-orang yang mendengarkan pesan kita untuk berubah dari ragu-ragu menjadi percaya dengan sepenuh hati kepada kebenaran. Khotbah yang mendesak dan mencari kebenaran yang demikian adalah penerapan.
DOSA
Dosa juga adalah sebuah masalah di dalam dunia yang sudah penuh dengan dosa. Sikap acuh tak acuh dan ragu-ragu mungkin juga adalah dosa-dosa yang spesifik, hasil dari dosa yang spesifik, atau bukan keduanya. Tetapi dosa, yang pasti, lebih dari mengabaikan atau ragu-ragu.
Yakinlah bahwa orang-orang yang mendengarkan khotbah Anda akan bergumul dengan tidak menaati Allah dalam minggu yang baru saja berlalu, dan mereka hampir pasti bergumul dengan tidak menaati Dia dalam minggu yang baru saja mereka mulai. Ada banyak macam-macam dosa. Sebagian akan menjadi suatu ketidaktaatan dalam bentuk tindakan; yang lainnya menjadi suatu ketidaktaatan karena tidak bertindak. Namun entah dibarengi atau tidak oleh tindakan, dosa adalah ketidaktaatan kepada Allah.
Bagian dari berkhotbah adalah menantang umat Allah kepada suatu kekudusan hidup yang akan mencerminkan kekudusan Allah sendiri. Jadi, bagian dari menerapkan nas Alkitab adalah untuk menarik keluar implikasi dari nas tersebut bagi tindakan kita dalam minggu ini. Kita ingin pendengar kita berubah dari berdosa dalam ketidaktaatan menjadi ketaatan kepada Allah dengan sukacita dan gembira sesuai dengan kehendak-Nya sebagaimana dinyatakan di dalam Firman-Nya. Suatu nasihat untuk taat sudah barang tentu adalah penerapan.
INJIL
Pesan utama yang perlu kita terapkan setiap kali kita berkhotbah adalah Injil. Sebagian orang belum mengetahui kabar baik tentang Yesus Kristus. Dan sebagian dari mereka bahkan mungkin telah duduk mendengarkan khotbah Anda, dan suatu kali—mereka tidak tertarik atau tertidur atau bermimpi di siang bolong atau memang tidak memberi perhatian. Mereka perlu diberitahu tentang Injil.
Orang-orang lain mungkin telah mendengar, mengerti, dan bahkan menerima kebenaran, tetapi kini mendapati diri mereka bergumul dengan meragukan setiap hal yang Anda sampaikan (atau asumsikan) dalam pesan Anda. Orang-orang yang demikian perlu didorong untuk memercayai kebenaran dari kabar baik tentang Kristus.
Dan juga orang-orang mungkin telah mendengar dan mengerti, tetapi tetap lambat untuk bertobat dari dosa-dosa mereka. Mereka mungkin bahkan menerima kebenaran dari pesan Injil, tetapi tidak mau menyerahkan dosa mereka dan percaya kepada Kristus. Untuk para pendengar yang demikian, penerapan yang paling kuat yang dapat Anda buat adalah menasihati mereka untuk membenci dosa-dosa mereka dan berlari kepada Kristus.
Sebuah tantangan yang umum kita hadapi sebagai pengkhotbah untuk menerapkan Firman Allah dalam khotbah-khotbah kita adalah mereka yang mengalami masalah dengan topik yang diberitakan akan berpikir bahwa Anda tidak sedang menerapkan Alkitab dalam khotbah Anda sebab Anda tidak membicarakan masalah khusus mereka. Apakah mereka benar? Tidak juga. Sementara khotbah Anda mungkin berkembang jika Anda mulai menekankan setiap kategori lebih sering atau lebih serius, tidaklah salah bagi Anda untuk berkhotbah kepada mereka yang perlu diberitahu atau yang butuh dinasihati untuk meninggalkan dosa, bahkan jika orang yang berbicara kepada Anda tidaklah begitu menyadari kebutuhan tersebut.
Satu catatan akhir. Amsal 23:12 berbunyi, “Arahkanlah perhatianmu kepada didikan, dan telingamu kepada kata-kata pengetahuan.” Dalam terjemahan bahasa Inggris, tampak bahwa kata yang diterjemahkan “apply” (menerapkan) di dalam Alkitab hampir selalu (mungkin selalu?) memiliki referensi bukan kepada tugas pengkhotbah (seperti yang diajarkan oleh homiletik kepada kita) atau bahkan kepada Roh Kudus (seperti yang diajarkan dengan benar oleh teologi sistematis) melainkan tugas dari mereka yang mendengarkan Firman. Kita dipanggil untuk menerapkan Firman kepada hati kita sendiri dan mengarahkan diri sendiri kepada pekerjaan tersebut.
Hal itu, mungkin, adalah satu-satunya penerapan yang paling penting yang dapat kita buat hari Minggu berikutnya bagi kepentingan seluruh umat Allah.
*)Mark Dever adalah Gembala Senior Gereja Baptis Capitol Hill,
di Washington, dan Presiden 9Marks.
Editor: Trisanti Karolina Napitu
Belanja
Akun
Sumber
Support
Copyright © 2026 Kabaria