Dari Kuas dan Sampah Menjadi Gerakan Menjaga Ciptaan Tuhan
20 Oktober 2025, 18:17

228
Suasana Sabtu pagi, 27 September 2025, di kompleks Sekolah Baptis Elim, Grogol, Jakarta Barat, berbeda dari biasanya. Di ruang-ruang kelas dan aula sekolah, puluhan anak dengan penuh semangat mengeluarkan cat, kertas gambar, serta potongan bungkus jajanan bekas yang sudah mereka kumpulkan. Tak ada yang menyangka bahwa sampah plastik yang sehari-hari dibuang begitu saja akan menjadi bahan utama lomba menggambar dan melukis bertema “Daur Ulang dan Keberlangsungan Lingkungan”.
Kegiatan yang diikuti sekitar lima puluh peserta dari jenjang SD hingga SMP ini bukan sekadar lomba seni. Ini adalah bagian dari gerakan yang jauh lebih besar—sebuah inisiatif yang lahir dari kepedulian dua siswi kelas 12 yang masih belia, namun memiliki visi besar untuk menjaga bumi ciptaan Tuhan melalui seni dan pendidikan.
Gerakan ini bernama Iris Initiative, didirikan oleh Chrystabelle Keilana Adianca dan Janessa A. Sasmito, dua siswi kelas 12 Sekolah Pelita Harapan Kemang Village. Dalam usia yang baru menginjak 17 tahun, keduanya menunjukkan bahwa perubahan besar dapat dimulai dari langkah kecil.
Iris Initiative berawal dari proyek sekolah mereka yang menuntut siswa menghasilkan sesuatu yang berdampak bagi masyarakat. Namun bagi Keilana dan Janessa, proyek ini bukan sekadar tugas. Sejak kelas 11, keduanya sudah mengajar anak-anak di Bali, Jakarta, dan Ciputat tentang seni, bahasa Inggris, dan musik dengan metode fun learning. Dari pengalaman itu, mereka menemukan satu pesan penting: Seni dapat menjadi sarana untuk menanamkan nilai kepedulian terhadap lingkungan.
Nama “Iris” sendiri dipilih bukan tanpa makna. Bunga iris, yang menjadi lambang gerakan ini, melambangkan iman, harapan, dan kebijaksanaan. Dalam mitologi Yunani, bunga iris adalah lambang iman, harapan, dan keberanian—serta dikenal sebagai “pembawa pesan” antara manusia dan Tuhan. Melalui seni dan kreativitas, kedua gadis ini ingin menjadi pembawa pesan agar generasi muda ikut menjaga ciptaan-Nya.
“Kami memulai dengan apa yang kami punya. Kami mulai kecil, tetapi kami mulai sekarang,” ujar Keilana dalam wawancara dengan Suara Baptis.
Di bawah kolaborasi dengan Sekolah Baptis Elim dan Gereja Baptis Indonesia Grogol, Iris Initiative menggelar lomba seni dengan konsep reduce, reuse, recycle. Anak-anak diminta mengubah sampah menjadi karya seni yang indah.
Kepala Sekolah SMP Baptis Elim, Ibu Kristiana Wahyu Widanti, mengungkapkan bahwa kegiatan ini bukan hanya melatih kreativitas, tetapi juga menanamkan rasa cinta terhadap lingkungan sejak dini. “Kami ingin anak-anak sadar bahwa sampah bukan sekadar sesuatu yang dibuang, tetapi dapat menjadi karya yang bernilai,” ujarnya.
Para juri yang menilai lomba pun menekankan hal serupa. Feri Agustian Soekarno, dosen Desain Komunikasi Visual Universitas Bunda Mulia, melihat kegiatan ini sebagai bentuk nyata dari amanat Tuhan untuk “mengusahakan dan memelihara bumi”. Ia berharap kegiatan seperti ini dapat berkembang menjadi gerakan nasional di gereja-gereja Baptis se-Indonesia.
“Perintah Tuhan dalam Kitab Kejadian bukan hanya pergi dan memberitakan Injil, tetapi juga menjaga dan merawat bumi yang Ia percayakan,” kata Feri.
Lomba berlangsung meriah. Anak-anak dari kelas 1 SD hingga SMP dengan antusias menggabungkan warna dan tekstur dari bahan daur ulang. Ada yang menggambar laut penuh sampah, ada pula yang melukis hutan hijau dengan pesan pelestarian alam.
Salah satu karya siswa SMP yang menarik perhatian adalah gambar seorang perempuan yang menjadi depresi karena masalah sampah, sehingga dia berusaha menenggelamkan dirinya di tengah laut untuk terbebas dari sampah. Namun ternyata dia mendapati dirinya ada di laut yang penuh sampah juga. Ini adalah simbol dari bumi yang sudah sangat tercemar oleh perbuatan manusia yang tidak bertanggung jawab. Lewat karya itu, para juri melihat bahwa kesadaran ekologis dapat tumbuh di usia remaja, jika sejak dini mereka diberi ruang untuk mengekspresikan kepedulian terhadap ciptaan Tuhan.
Acara ditutup dengan ibadah syukur dan doa bersama. Para pemenang membawa pulang piala, piagam, dan beasiswa SPP. Lebih indah lagi, semua peserta pulang dengan semangat yang sama: Bumi ini harus dijaga, dan mereka dapat memulainya dari hal kecil.
Bagi Keilana dan Janessa, lomba ini hanyalah langkah awal. Setelah kegiatan ini, Iris Initiative menyiapkan program lanjutan berupa pelatihan public speaking, menulis, menari, seni visual, musik, serta pembuatan video mini. Dari pelatihan-pelatihan tersebut, para peserta akan menciptakan karya kolaboratif yang menjadi materi kampanye lingkungan di berbagai sekolah dan komunitas.
Visi mereka sederhana namun berani, yaitu membentuk “agen muda” penjaga keberlangsungan lingkungan hidup yang berakar pada iman Kristen. Dalam setiap langkah, keduanya menekankan bahwa kepedulian terhadap bumi bukan hanya isu sosial, melainkan bagian dari panggilan iman.
Pendeta Mauritz, Gembala Sidang Gereja Baptis Grogol, menegaskan hal serupa.
“Menjaga alam adalah bagian dari amanat yang diberikan Tuhan kepada manusia untuk mengelola bumi, sehingga gereja perlu menanamkan nilai cinta lingkungan sejak anak-anak Sekolah Minggu,” ujarnya.
Iris Initiative menjadi contoh bahwa iman dan tindakan dapat berjalan beriringan. Dua remaja ini tidak menunggu dewasa untuk memberi dampak. Mereka menggunakan kuas, pensil warna, dan imajinasi untuk menanamkan nilai rohani yang konkret: Mengasihi ciptaan Tuhan dengan merawatnya.
Ibu Joanna Debora Rembert, ibu dari Keilana, melihat inisiatif anaknya sebagai buah dari iman dan pendidikan yang seimbang antara akademik dan spiritual. “Saya hanya mendorong anak-anak untuk melakukan sesuatu yang positif. Dengan begitu mereka menjadi kitab terbuka bagi lingkungan sekitarnya,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa kegiatan ini adalah wujud nyata bagaimana anak muda Baptis dapat berperan di luar tembok gereja—menjadi terang dan garam bagi masyarakat. Iris Initiative juga melibatkan relawan dari kalangan Baptis dan gereja lain yang terbeban untuk memberi dampak bagi kemuliaan nama Tuhan.
Dalam dunia yang semakin konsumtif dan cepat membuang, gerakan kecil seperti ini menjadi pengingat bagi umat Baptis di seluruh Indonesia bahwa tanggung jawab menjaga bumi bukan milik segelintir orang. Itu adalah panggilan bagi setiap orang percaya.
Belanja
Akun
Sumber
Support
Copyright © 2026 Kabaria