DETEKTIF FREYA - Karya Pemenang Juara 1 Lomba Menulis Cerita Fiksi PLKI 2026 Tingkat SMP
7 Oktober 2026, 18:28

106
Penulis: Giselle Jennifer Wijaya – SMPK 5 BPK PENABUR Bandung
“Kalau bukan sekarang, kapan lagi?” Kalimat itu berputar di kepalaku sejak pengumuman menjelang pulang sekolah tadi. Oh ya, Hai! Aku Freya, gadis yang susah setengah mati untuk punya teman. Kenapa? Karena pekerjaan Papah yang selalu berpindah-pindah tempat dinas. Bahkan beda pulau. Tapi sekarang, kami menetap di Bandung, Jawa Barat. Papahku seorang arsitek utama yang baru saja naik pangkat! Aku bahagia sekali saat mendengar Papahku naik pangkat. Kenapa? Satu, anak macam apa yang tidak suka melihat orang tuanya sukses? Kedua, akhirnya aku tidak perlu pindah-pindah sekolah lagi.
Namun, berbaring dan berguling-guling di atas kasur, ternyata tidak memberi jawaban. Jadi begini, sejak dahulu, aku sangat berambisi menjadi seorang pengurus OSIS. Keinginan itu selalu aku urungkan, karena mustahil untuk anak pindahan seperti aku. Karena kegalauanku, suara speaker sentral yang sudah jadul itu kembali terdengar di sela lamunanku...
“Selamat siang murid dan para guru SMP Permata Bangsa. Sebentar lagi, kegiatan belajar mengajar akan segera berakhir...” suara berderak Guru TU itu seketika membungkam suara riuh seluruh isi kelas di tengah-tengah pelajaran matematika.
“... Pengumuman ketiga, karena masa kepengurusan OSIS tahun 2025/2026 akan berakhir, maka pendaftaran ketua dan wakil ketua OSIS Permata Bangsa sudah dibuka. Sekian, terima kasih.”
Wah? Ketua OSIS? Menarik...
DUGH!
Senggolan teman sebangkuku membuatku tersentak. “Eh, sori-sori, Fre. Engga sengaja” ucap laki-laki di sebelahku yang malah menyengir tanpa dosa. Dia teman sebangkuku. William Henderson Wijaya, tertulis di kartu pengenalnya. Banyak yang bilang sih dia salah satu cowok dari geng populer di sekolah. Kelihatannya sih... meyakinkan. Tinggi, badannya tegap, hidung mancung seperti Pinokio dan tampangnya... oke. Tapi, dia sangat berisik. Asli. Jahil, gampang panik (dan bikin orang panik), bahkan bisa-bisanya sok akrab ke anak baru, yaitu aku.
Tebak apa yang dia katakan tadi dengan wajah sok seriusnya?
“Fre, lo denger kan pengumuman tadi? Buruan daftar deh. Daripada jabatan ketua OSIS jatuh lagi ke tangan Arkan dan komplotan blazernya yang cuman modal tebar pesona,” ucapnya sambil bermalas-malasan di atas meja yang berantakan.
Aku mengernyitkan dahi. Kak Arkan? Dia kan Ketua OSIS yang super populer itu. Sebelum masuk ke SMP Permata Bangsa, aku sempat mencari tahu tentang sekolah ini lewat akun Instagram sekolah. Di sana ada video rekaman debat Ketua OSIS tahun lalu. Di video itu, Kak Arkan terlihat sangat berkarisma. Bener-bener terlihat seperti Ketua OSIS yang sempurna dan idaman tiap sekolah. Visi dan misinya juga terdengar sangat meyakinkan. Kalimat yang dilontarkan William membuatku bertanya-tanya.
"Hah? Emang Kak Arkan kenapa?"
Dia tiba-tiba membenarkan posisi duduknya dan menarik kursi agar dekat denganku. Eh? Mau ngapain dia? Kelihatan serius banget kayak mau ngomongin rahasia negara.
"Lo gatau aja, Arkan and the geng itu udah ngebuat anak-anak OSIS kelas 7 nangis merintih. Masa ya, setiap ada acara, yang kerja itu cuman 'bawahan' mereka. Terus mereka baru muncul H-1 dan cuman foto-foto centil. Caper banget deh intinya," oceh William yang sudah dipelototi Pak Raka Wicaksana sejak lima menit yang lalu. William yang mulai sadar langsung terkesiap dan duduk tegap. "E-Eh Bapak Raka yang ganteng... kenapa Pak?" ucap William dengan ke-asbunannya yang pakai banget.
"Kamu mau pulang tidak? Cepat siapkan salam! Jadi ketua kelas kok bisa lupa salam... Cepat! Saya ada rapat!” gerutu Pak Raka dengan tumpukan kertas PR di tangannya.
"Iyaa iya Pak. Sabar dong. Siap! Beri Salam!"
Yap. Aku baru pertama kali melihat orang yang panik dan banyak omong sekaligus.
"Freya! Freya Callista Adinata! Ayo makan!" teriakan Mamah membuyarkan lamunanku. Tanpa sadar, ternyata aku sudah melamun sekitar 20 menit lebih. Aduh, kebiasaan seorang Freya, terlalu memikirkan hal-hal yang bahkan belum tentu benar.
“Iyaa Mah! Ini aku kebawah!” ucapku sambil berlari menuruni tangga. Aroma spaghetti lasagna buatan Mamah langsung menyambutku.
“Pelan-pelan, Frey! Kok tumben lama banget di kamar? Chat-an sama siapa sih?” goda Mamah. “Apa sih, Mah… Hmmm! Yey, spaghetti lasagna!” Aku langsung duduk dan mulai makan. “Papah mana, Mah?”
Mamah hanya melirik ke arah ruang kerja Papah. Seperti biasa, Papah masih sibuk dengan pekerjaannya. Aku menghela napas kecil,
“Udah ah, Frey. Makan dulu,” ucap Mamah sambil tersenyum.
Beberapa saat kemudian, Mamah bertanya, “Oh ya, gimana hari pertama kamu? Seru?”
“Ya… oke sih, Mah. Tadi ada pengumuman tentang pendaftaran calon Ketua dan Wakil OSIS yang baru,” jawabku ragu dan melihat Mamah yang hanya lanjut mengunyah, seperti menungguku menyelesaikan ucapanku.
“Menurut Mamah… aku coba daftar enggak?”
Mamah tersenyum kecil.
“Coba aja, Frey. Kalau bukan sekarang, kapan lagi?” Yap. Kalimat itu kembali berputar dalam pikiranku.
Keesokan harinya, aku datang lebih awal. Bukan apa-apa, aku hanya ingin memastikan ucapan William tentang Kak Arkan kemarin.
Aku sengaja mengubah arah menuju kelas dan melewati ruang OSIS. Pintunya tidak tertutup sempurna. Dari celahnya, cahaya lampu terlihat terang. Karena penasaran, kuberanikan diri membuka pintu.
Wah.
Ini ruang OSIS terbagus di Indonesia. Ruangan itu luas, ber-AC, memiliki kulkas kecil, dan kursi-kursi berbusa yang terlihat jauh lebih nyaman daripada kursi di kelas. Jujur, sepertinya lebih bagus daripada ruang Kepala Sekolah. Setelah puas melihat-lihat, aku segera kembali ke kelas.
“William!” seruku sambil menepuk bahunya. “EH AYAM AYAM—Duh, Frey! Kalau manggil orang bisa pelan-pelan nggak sih? Orang lagi tidur. Kenapa?”
“Lah, ngapain juga tidur? Masih pagi gini!” Aku menaruh tas dan menarik kursi. “Oh ya, Will. Tadi aku ke ruang OSIS. Isinya bagus banget, ya? Ada AC, kulkas kecil, intinya kayak kamar hotel. Kok bisa begitu? Atau memang OSIS di sini sangat diagungkan?”
William yang masih mengucek mata tiba-tiba berhenti. “Lo masuk ke ruang OSIS?” Aku mengangguk. Raut wajahnya berubah. “Gua curiga sama sesuatu. Dana OSIS.”
Aku mengernyitkan dahi. Hah? Maksudnya Kak Arkan dan teman-temannya korupsi? “Maksudnya korupsi? Enggak kali. Dana OSIS juga butuh persetujuan Kepala Sekolah.”
“Ya, siapa tahu Arkan anaknya Bu Meida.”
William memang suka asal bicara. Tapi kali ini, entah kenapa, ucapannya membuatku berpikir. Kak Arkan anak Bu Meida? Itu... tidak mustahil.
DRING! DRING!
Bel masuk berbunyi. William langsung berdiri untuk menyiapkan kelas sebagai ketua kelas, sementara aku masih terdiam. Kalau memang benar... Kenapa ruang OSIS bisa sebagus itu? Kenapa Kak Arkan bisa terlihat begitu sempurna? Seharian itu, aku jadi lebih sering memperhatikan geng OSIS Kak Arkan. Dari luar, mereka memang terlihat menyebalkan dan sombong.
Saat bel pulang berbunyi, aku langsung membereskan buku. “Mau ke mana lo? Baru bel pulang, kayak maling aja,” tanya William. “Ke perpustakaan. Mau ikut nggak?” “Belajar? Enggak, terima kasih.” “Bukan. Mau cari tahu tentang Kak Arkan.”
William terdiam sebentar. “Kaya detektif aja lo.” “Jadi ikut?” “Yaudah. Gua lagi free.”Sesampainya di perpustakaan, aku langsung sadar kalau ruang OSIS memang jauh lebih bagus. Perpustakaan ini hanya memiliki kipas angin kecil, meja-meja tua, dan buku-buku yang mulai berdebu. Anehya, aku justru lebih suka tempat ini.
Namun sebelum mulai mencari, William mengingatkanku, "Eh, Fre. Pendaftaran calon ketua OSIS sebentar lagi ditutup, loh. Kalau terlalu ngurusin Arkan, bisa ketinggalan."
Dia benar.
Sekarang tanggal 29 September. Pendaftaran hanya sampai 2 Oktober. Empat hari lagi.
Aku tidak mau kehilangan kesempatan hanya karena terlalu sibuk membongkar sesuatu yang bahkan belum tentu benar.
“Hmm… Temenin aku daftar calon Ketua OSIS dulu aja deh, mau? Ke ruang OSIS kan ya?” Tanpa menunggu jawaban William yang sedang berteriak memanggil, aku langsung berjalan menaiki tangga ke ruang OSIS. Di sana, hanya ada pembina utama OSIS yang sedang duduk dengan wajah lelah.
“Permisi Pak, daftar calon Ketua OSIS di sini ya? Saya boleh minta formulirnya?” tanyaku pada Pak Simon.
“Kamu sudah punya wakil?” Waduh, aku lupa bahwa saat mendaftar perlu berpasangan.
“Oh iya… belum Pak, harus bersama pasangan ya, Pak?”
“Iya dong, namanya saja pasangan calon. Ya sudah, kembali ke sini kalau sudah ada pasangannya ya. Permisi, saya mau rapat.” ucap Pak Simon yang langsung berjalan menuruni tangga untuk rapat guru.
Aku menghela napas panjang. Menjadi seorang ketua OSIS ternyata tidak semudah itu. Harus menyiapkan visi, misi, dan juga program-program yang sudah harus terjamin. Tapi, siapa ya yang bisa menjadi wakilku? Nama William sempat terlintas, tapi dia sudah menjadi bagian dari Majelis Perwakilan Kelas. Otomatis tidak bisa bergabung dengan OSIS.
Sebenernya, aku sudah berteman dengan lumayan banyak orang. Tapi belum ada yang membuatku nyaman untuk diajak berpasangan sebagai wakil.
“Udahlah, Fre. Lu pulang dulu aja. Udah mendung, bentar lagi hujan. Nih, gua nemu majalah sekolah lama, liat deh isinya. Lupa, gua ada rapat MPK dulu, dadah!” ucap William yang kemudian langsung lari dengan senyum sumringahnya itu. Dasar. Udah telat bisa-bisanya tertawa.
Saat menuruni tangga untuk pulang, tiba-tiba aku mendengar suara orang ribut dari ruang kepala sekolah. Karena penasaran, aku berputar untuk melewati ruang Kepala Sekolah.
“Kamu pikir Ibu melakukan semua ini untuk apa, Arkan?” Itu suara Bu Meida.
“Ibu, aku sudah berusaha… aku capek, Bu.” Dan suara itu… Kak Arkan?
“Berusaha? Ibu tidak meminta sesuatu yang mustahil. Ibu hanya ingin kamu mempertahankan apa yang sudah kamu capai. Kamu juga ketua OSIS, Arkan! Harus jadi contoh!” suara Bu Meida mulai meninggi dan terdengar sangat tegas.
“Apa yang aku capai? Dengan paksaan Ibu. Aku cuman pengen sekali aja… melakukan sesuatu karena aku mau.” Pertama kalinya, aku mendengar suara Kak Arkan yang jauh berbeda dari biasanya. Kak Arkan yang selalu terlihat sempurna…
“Ibu sudah memberikan semuanya untukmu, Arkan.”
“Aku tau, Bu. Makannya selama ini aku mencoba melakukan semuanya.” Tunggu. Memberikan semuanya? Melakukan semuanya? Maksudnya apa?
Di rumah, aku masih berpikir soal Kak Arkan sekaligus tentang pendaftaran calon Ketua OSIS tadi.
Tok! Tok!
“Permisi, Freya sayang, tas kamu berat banget sih.” Sebentar, itu suara Papah? Sudah lama sekali sejak terakhir kali kami berbicara dan mengobrol bersama.
“Eh Papah? Ada apa, Pah?”
Papah masuk dan memberikan tas sekolah berwarna merahku yang dipenuhi gantungan kunci. Oh iya, karena terlalu memikirkan hal-hal tadi, aku sampai lupa membawanya ke atas.
“Eh terima kasih Pah, iya, tadi aku minjem majalah sekolah lama dari William.”
Papah mengangguk dan tersenyum. “Iya, Papah kenal loh sama Bu Meida. Dulu kami pernah kuliah dan kerja bareng.” Aku langsung menoleh.
Papah membuka halaman ‘Di Balik Sosok Guru’ dan menunjuk foto keluarga Bu Meida. Ada Bu Meida, suaminya, seorang anak laki-laki, dan seorang anak perempuan.
“Papah kenal anak-anaknya?” tanyaku penasaran. Siapa tahu Papah tahu soal Kak Arkan?
“Itu Arkan dan Naya. Mereka bukan anak kandung Bu Meida dan suaminya. Mereka anak angkat. Dulu Bu Meida dan suaminya …“ ponsel Papah tiba-tiba berdering.
“Aduh maaf ya, Sayang. Papah harus kerja lagi. Dadah Freya!” papah meninggalkanku bersama majalah yang masih terbuka. Aku kangen mengobrol dengan Papah seperti tadi. Tunggu…
Jadi, selama ini aku salah? Aku mencoba menyusun semua potongan tentang Kak Arkan sambil memikirkan visi, misi, dan program yang akan kubuat bersama wakilku nanti.
Apakah Kak Arkan ditekan untuk menjadi sempurna? Atau itu cara Bu Meida menyayangi Kak Arkan? Tapi, siapa Naya?
Karena terlalu memikirkan banyak hal, aku sampai tertidur lelap di atas meja belajarku. Tanpa sadar, halaman majalah yang papah tunjukan masih terbuka.
Aku bangun terkesiap karena mendengar alarmku yang bunyi sangat berisik. Saat bangun, aku menatap kembali foto keluarga kak Arkan. Di sana tertulis ‘Arkan Revan Mahardika’ juga ‘Naya Elara Mahardika’ adiknya, yang namanya terdengar… familiar? Tapi, keluarga itu tampak sempurna.
Saat tiba di sekolah, aku berniat untuk bertanya mengenai wakilku yang masih belum terpikir pada Pak Simon di ruang OSIS. Tapi di sana, aku bertemu dengan perempuan sebaya denganku, yang terlihat memiliki masalah yang sama denganku.
“Yahh Pak, aku belum punya pasangan…” Sebentar! Mungkinkah ini wakilku?
“Hai! Kamu mau menyalonkan diri juga? Mau…. Bareng ga? Kebetulan aku juga belum ketemu pasangan calonku! Oh iya, kenalin namaku Freya!” ucapku bersemangat. Sangat berharap.
“Oh hai Freya! Boleh! Aduh kebetulan banget ya! Kenalin juga, aku Naya!” Oh? Naya? Ah, tapi yang bernama Naya di sekolah ini banyak. Tidak mungkin ini adiknya Kak Arkan kan?
“Asik! Mau ngobrol soal visi, misi, dan program-program pulang sekolah nanti? Udah mepet juga ini, tinggal 2 hari lagi!” Karena terlalu memikirkan soal Kak Arkan,aku sampai tidak sadar bahwa waktunya sudah sangat mepet.
Saat sudah sepakat, kami mulai menyusun visi, misi, dan program untuk pencalonan kami selama dua hari. Namun, saat akan membuat poster untuk promosi…
“Oh iya, nama lengkapmu siapa, Naya?” Karena terlalu bersemangat, sampai tidak tahu siapa nama lengkap Naya, wakilku sendiri.
“Naya Elara Mahardika, Frey!” ucap Naya. Oh. Jadi, firasatku benar? Saat akan memanggil Naya untuk memastikan, ternyata dia sudah berlari ke kamar kecil. Sejujurnya, dia sangat berbeda dengan Kak Arkan yang sempurna.
Sungguh beruntungnya diriku. Saat berjalan menuju kelas, aku bertemu dengan Kak Arkan yang sedang membawa setumpuk buku tebal. Sepertinya buku harian OSIS.
BRUK! Ternyata buku-buku yang sedang dibawa Kak Arkan terjatuh. Aku langsung lari menghampirinya dan membantu mengambilkan buku-buku itu. Benar. Buku harian OSIS.
“Eh, Makasih ya,” dia melirik nametagku, “Freya.” Sorot mata Kak Arkan terlihat sangat... lelah.
“S-Semangat ya Kak.” Aduh Freya! Ngomong apa sih? Kalimat itu terucap tanpa sadar. Kak Arkan yang sedang berdiri di depanku tampak kebingungan lalu, tersenyum.
Hari pemilihan dan debat calon ketua OSISpun tiba. Selama hari-hari terakhir, kuhabiskan bersama dengan Naya untuk mempersiapkan lebih matang mengenai presentasi kami di aula hari ini. Sekarang, kami sedang berada di meja PASLON nomor 02, sedang menunggu teman-teman dan guru memasuki ruangan. Sungguh, aku merasa sangat gugup. Rasanya semua yang sudah kusiapkan mendadak hilang dari kepalaku. Oh iya, aku lupa menanyakan soal hubungan Naya dan Arkan pada Naya sendiri. Mungkin setelah debat dan presentasi selesai?
“Seluruh murid harap tenang. Acara debat dan presentasi calon Ketua dan wakil OSIS akan dimulai.”
“Ayo, Frey.” Ucap Naya dengan senyuman. Aku ikut berdiri. Seluruh presentasi kami berakhir diluar ekspektasiku. Tepukan tangan teman-teman dan guru menggema di ruangan aula itu.
Kami saling tersenyum, seperti mengatakan “Kita berhasil.” Kamipun kembali duduk sambil mendengarkan presentasi PASLON selanjutnya dan pemilihan daring. Tak kuasa menahan rasa penasaran, akhirnya kubertanya soal Kak Arkan pada Naya.
“Eh, Naya, sorry, tapi, kamu sama Kak Arkan itu saudara ya? Aku tahu dari papahku yang kebetulan kenal dengan Bu Meida-“
Naya terlihat sedikit kebingungan lalu tersenyum dan menangguk pelan. “Kamu sudah tahu ya ternyata? Gapapa kok, kita kan bakalan kerja bareng, ga mungkin main rahasia-rahasia.”
Belum sempat aku membalas ucapan Naya, Pak Simon selaku pembina utama OSIS mengumumkan sesuatu yang tak aku sangka.
“Berdasarkan hasil pemungutan suara online melalui QR code yang sudah dibagi, PASLON yang terpilih dan dipercaya untuk menjadi Ketua dan Wakil OSIS SMP Permata Bangsa adalah… PASLON DUA! Freya Callista Adinata dan Naya Elara Mahardika!” ucap Pak Simon bersemangat yang langsung disambut dengan sorak-sorai dari seluruh isi aula.
Aku tidak bisa menahan tangisku. Entah karena bahagia, lelah, atau karena akhirnya aku benar-benar berani mengambil keputusan yang selama ini kutakuti.
Di tengah sorak-sorai itu, mataku tanpa sengaja bertemu dengan Kak Arkan. Ia tersenyum kecil. Untuk pertama kalinya, senyumnya tidak terlihat seperti senyum seorang ketua OSIS yang sempurna. Kini aku mengerti, Bu Meida bukanlah ibu yang jahat. Ia hanya takut kehilangan anak yang sudah begitu lama ia perjuangkan, sampai lupa bahwa Arkan juga berhak menentukan jalan hidupnya sendiri.
Aku mengusap air mataku sambil tersenyum.
Hari itu, aku bukan hanya mendapatkan jabatan yang selama ini kuimpikan. Aku mendapatkan keberanian untuk akhirnya memilih jalanku sendiri. Dan aku teringat kalimat Mamah yang mengawali semuanya.
“Kalau bukan sekarang, kapan lagi?”
Belanja
Akun
Sumber
Support
Copyright © 2026 Kabaria