Gebyar Sekolah Minggu GGBI BPD Surakarta: Menyalakan Terang Iman Anak-Anak di Taman Balekambang
2 Februari 2026, 11:44

242
Surakarta kembali dipenuhi tawa dan nyanyian anak-anak pada Kamis, 16 Januari 2026. Sejak pagi, kawasan Taman Balekambang Surakarta telah ramai oleh langkah-langkah kecil yang berlarian sambil menggenggam tangan orang tua atau guru Sekolah Minggu. Gabungan Gereja-Gereja Baptis Indonesia (GGBI) Badan Pengurus Daerah (BPD) Surakarta menggelar Gebyar Sekolah Minggu 2026, sebuah perayaan iman anak-anak dengan tema Be The Light, yang diambil dari Efesus 5:8.
Kegiatan ini diikuti oleh 848 peserta yang terdiri dari anak-anak, guru Sekolah Minggu, gembala sidang, orang tua, relawan, dan panitia. Mereka hadir mewakili 34 gereja Baptis serta satu lembaga pendidikan, yaitu Taman Kanak-Kanak (TK) Baptis Banaran. Kehadiran ratusan anak dengan seragam gereja yang beraneka warna menjadi gambaran nyata tentang gereja yang terus bertumbuh dan berkesinambungan dari generasi ke generasi.
Acara dibuka dengan alunan musik yang lembut dan teratur, dilanjutkan dengan penampilan tarian tradisional khas Surakarta. Gerak tari yang anggun serta busana berwarna cerah menghadirkan suasana penyambutan yang hangat dan mampu menarik perhatian anak-anak sejak awal kegiatan. Pembukaan ini tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga menyampaikan pesan bahwa pertumbuhan iman dapat berjalan selaras dengan nilai budaya dan keindahan lokal.
Sejumlah tokoh turut hadir memberikan dukungan, di antaranya Wakil Wali Kota Surakarta Ibu Astrid Widayani, S.S., S.E., MBA, Ketua Badan Musyawarah Nasional (Bamusnas) GGBI Pdt. Paul Kabarianto, M.Th., serta Ketua BPD GGBI Surakarta Pdt. Karsiman, S.Th. Acara ini juga dikoordinasikan oleh Ketua Panitia, Ibu Pawestriana Redhiastuti, yang akrab disapa Ibu Ana.
Dalam sambutannya, Ibu Astrid menyampaikan apresiasi atas peran gereja dalam pembinaan iman anak-anak. Ia juga mengajak seluruh peserta, khususnya anak-anak, untuk bernyanyi bersama lagu Laskar Pelangi. Suasana kebersamaan pun terbangun dengan hangat, ditandai oleh partisipasi aktif anak-anak yang bernyanyi, melambaikan tangan mengikuti irama, serta wajah-wajah kecil yang memancarkan kegembiraan.
Rangkaian acara selanjutnya dirancang secara partisipatif sehingga anak-anak tidak sekadar menjadi penonton, tetapi terlibat secara aktif. Beberapa kali mereka dipanggil naik ke panggung, baik untuk menyanyi, menari, maupun mengikuti sesi interaktif yang telah disiapkan oleh panitia.
Panitia juga menyiapkan kegiatan yang disesuaikan dengan kelompok usia peserta. Anak-anak hingga delapan tahun mengikuti lomba mewarnai, sementara peserta berusia di atas delapan tahun terlibat dalam berbagai permainan kelompok. Suasana kegiatan berlangsung meriah, ditandai oleh tawa peserta ketika ada yang salah menjawab serta sorak sorai saat satu tim berhasil menyelesaikan tantangan. Melalui rangkaian permainan tersebut, nilai-nilai kebersamaan, sportivitas, serta keberanian untuk mencoba terus disampaikan dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami.
Firman Tuhan disampaikan oleh Ir. John H. L. Serworwora, Ph.D. Melalui penyampaian yang hangat dan komunikatif, ia mengajak anak-anak memahami bahwa menjadi “terang” dapat dimulai dari hal-hal sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Dengan ilustrasi kisah Ben Underwood, seorang anak yang mampu “melihat tanpa mata”, Pdt. Ronny menekankan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk memancarkan terang Tuhan. Ia mengajak anak-anak hidup sedemikian rupa sehingga orang-orang di sekitar mereka—orang tua, teman, maupun guru—dapat melihat kasih dan terang Tuhan melalui sikap, tindakan, dan kesaksian hidup mereka.
Semangat Be The Light tidak berhenti pada berakhirnya acara utama. Para pendeta dan kepala Sekolah Minggu kemudian mengikuti pertemuan lanjutan bertajuk “Sarasehan – Sekolah Minggu sebagai Kunci Pertumbuhan Gereja”, yang diselenggarakan oleh Lembaga Literatur Baptis (LLB) bekerja sama dengan BPD Surakarta.
Dalam forum ini, para pelayan gereja saling berbagi pengalaman mengenai kondisi Sekolah Minggu di gereja masing-masing, termasuk keterbatasan jumlah guru, materi pembelajaran yang belum seragam, serta tantangan dalam mendampingi anak-anak di tengah perkembangan era digital.
LLB memperkenalkan kurikulum baru “Menjelajahi Alkitab”, sebuah materi pembelajaran yang dirancang lebih sistematis dan mendalam. Tanggapan peserta beragam. Sebagian menilai materi ini memiliki tingkat kesulitan yang lebih tinggi, sementara yang lain menyambutnya dengan apresiasi karena dinilai mampu mendorong jemaat untuk “naik kelas” dalam pemahaman Alkitab.
Berbagai usulan turut disampaikan, antara lain pembuatan video teaser mingguan, penyediaan kanal pengajaran melalui YouTube untuk tiap pelajaran, serta pembentukan layanan konsultasi bagi gereja yang mengalami kesulitan memahami materi. Usulan-usulan tersebut mencerminkan kerinduan bersama agar anak-anak Baptis di Indonesia memperoleh pengajaran yang bukan hanya menarik, tetapi juga bertanggung jawab secara teologis.
Pada kesempatan yang sama, LLB juga memperkenalkan aplikasi Kabaria 2.0, sebuah platform digital yang dirancang untuk mendukung pengelolaan Sekolah Minggu, termasuk sistem presensi berbasis QR code. Inisiatif ini dipandang sebagai upaya menjembatani pelayanan Sekolah Minggu yang bersifat tradisional dengan kebutuhan generasi yang semakin akrab dengan teknologi.
Sebagai penutup sarasehan, para pendeta menerima buku Khotbahkan dan Sembuhkan, sebuah bahan pengayaan pelayanan yang diharapkan dapat memperkuat peran gembala dalam membina dan melayani jemaat, termasuk pelayanan kepada anak-anak. Sarasehan seperti ini dinilai sangat bermanfaat dan diharapkan dapat dilaksanakan pula di daerah-daerah lain.
Gebyar Sekolah Minggu BPD Surakarta 2026 bukan sekadar program tahunan, melainkan penanda komitmen gereja Baptis di Indonesia untuk menghadirkan Injil kepada generasi muda melalui pendekatan yang kreatif, kontekstual, dan penuh sukacita, tanpa mengesampingkan tanggung jawab iman dan pembinaan rohani yang berkesinambungan.
Di bawah rindangnya pepohonan Taman Balekambang, ratusan anak belajar bahwa mereka bukan hanya penerus gereja di masa depan, melainkan bagian penting dari gereja masa kini. Dari nyanyian sederhana hingga diskusi serius di antara para pendeta, semuanya bergerak menuju satu tujuan: agar terang Kristus terus menyala dan menerangi pelayanan di kelas-kelas Sekolah Minggu.
Pagi itu, di Surakarta, iman itu terasa nyata—dalam tawa anak-anak, warna-warni crayon, dan doa yang dinaikkan bersama.
Penulis: Eliezer K. F.
Editor: Ribka G. W.
Belanja
Akun
Sumber
Support
Copyright © 2026 Kabaria