Jika Tuhan berdaulat, mengapa dunia yang diciptakan-Nya penuh penderitaan
18 Maret 2025, 07:44

40
ARTIKEL TEOLOGI JIKA TUHAN BERDAULAT, MENGAPA DUNIA YANG DICIPTAKAN-NYA PENUH DENGAN PENDERITAAN?
John Piper*)
ARTIKEL TEOLOGI
Kami menerima sebuah surat elektronik (email) dari seorang ayah yang terluka. Hatinya sedih melihat kehancuran dunia ini. Dan kehancuran itu menjadi kenyataan pahit bagi dirinya. Berikut adalah kisahnya, yang dikirim sebagai email tanpa nama
"Pendeta John yang balk, saya Ingin mengatakan apa adanya saya bergumul untuk meyakini bahwa Tuhan sepenuhnya memerintah atas dunia-Nya pada saat ini. Sepertinya mustahil untuk dapat tetap percaya kepada Tuhan jika mengingat keadaan dunia saat ini atau sebaiknya saya mengatakan, dunia Nya pada saat int
Bangsa kita bukan hanya sedang menuju jurang kehancuran karena banyaknya perbuatan amoral, tetapi ekonomi kita juga sedang mandek Utang negara meroket. Bayi-bayi yang masih dalam kandungan dibunuh setiap nari. Tingkat kematian di Amerika membengkak. Di Chicago, tingkat kejahatan telah meningkat sedemikian tinggi sehingga saya mulai meyakini bahwa lebih aman tinggal di trak atau Afghanistan daripada di Belahan Selatan. Sebagian besar anak tidur di kolong ranjang mereka karena takut menjadi korban kekerasan senjata.
Kenyataan panit tersebut juga kami alami sebagai keluarga yang terdiri dari empat orang. Kami memiliki seorang anak laki-laki yang terlahir dengan ADHD (gangguan mental yang menyebabkan seorang anak sulit memusatkan perhatian). Ini menyebabkan kehidupan yang diliputi kepedihan bahkan keputusasaan.
Suatu malam ketika sedang berusaha mengerjakan tugas sekolahnya di meja dapur, ia memberitahu saya, "Ayah, aku benci sekolah. Bahkan guru-guru mengolok-olok aku. Aku benci ADHD dan pengobatannya yang membuatku sakit perut." Pendeta John, jika Tuhan
memegang kendall, mengapa pendentaan marak di mana-mana?
Sesungguhnya, hal paling menyedihkan yang pria ini kemukakan adalah "mustahil untuk percaya. Dengan demikian saya telah berdoa saya berdoa saat ini-agar Tuhan memakai apa yang saya katakan untuk membuatnya ticiak lagi mustahil untuk percaya. Kami telah kerap kali membahas pertanyaan ini di Desiring God dan di rubrik "Bertanya kepada Pendeta John". Tetapi ketika saya melihat pertanyaan itu, saya sungguh sungguh ingin membahasnya lagi.
Dunia yang Penuh Kepedihan
Saya merasakan tekanan yang menyayat hati mengenai masalan ini bukan hanya karena cara pria ini mengartikulasikannya dengan begitu efektif, tetapi juga karena beberapa waktu lalu, saya dan Noel, istri soyo, menonton sebuch film dokumenter tiga episode berjudul "Pain, Pus, and Poison (Kepodihan, Nanah, dan Racun). Dan pada episode kedua mengenai sejarah ditemukannya penisilin dan hadinya antibiotik di abad ke-20, hati saya sangat terenyuh. Saya memikirkan betapa telah ribuan tahun dunia sangat merana akibat berbagai penyakit menakutkan tanpa pertahanan medis apa pun-bahkan, dengan prosedur medis yang seringkali memperburuk keadaan
Umpamanya, malam sebelum George Washington meninggal mereka mengeluarkan empat liter darah dari tubuhnya. Empat liter! Itu hampir 40 persen darah dalam tubuhnya.
Episode kedua itu menunjukkan gambar-gambar orang sedang sekarat akibat infeksi mengerikan. Juga ada gambar anak-anak yang tubuhnya penuh cacar sementara ibu mereka mengusir lalat dengan kipas sambil menantikan ajal menjemput anak-anaknya. Melihat semua gambar itu,
istri saya memalingkan wajah. la tidak tahan melihatnya. Dan saya terkesiap sambil berkata, "Tidak! Bagaimana jika saya yang mengalaminya? Bagaimana kalau saya adalah orang tua yang sedang mengipasi anak yang tubuhnya penuh luka akibat cacar dan sedang menantikan kematian yang mengenaskan?"
Sebagian besar cari kita di dunia Barat telah terhindar dari kontak langsung dengan berbagai infeksi yang mengerikan, menjijikkan, kecacatan dan rasa sakit yang tak tertahankan, Dan saya merasakan kekuatan dari pertanyaan, "Tuhan. apa maksud-Mu dengan semua ini? Apa yang sedang Koulakukan? Apa
yang sedang Kaukatakan?"
Dan dari pertanyaan pria ini dan ribuan orang lainnya, saya sedar bahwa pengalaman yang mendatangkan penderitaan tak terooyangkan dan kecacatan yang mengerikan telah menegaskan ketidakpercayaan banyak orang yang tak ternitung jumlahnya. Seperti pria itu, mereka akan berkata "Itu mustahil, Pipor. Karana keadaan dunia saat ini, mustahil untuk tetap percaya kepada Tuhan."
Itu adalah kutipan perkataan pria itu tetapi saya mengatakan bahwa masalahnya lebih buruk. Lebih parah lagi, karena antara tahun 1900 sampai 1977, 300 juta orang meninggal akibat cacar
(smalipox) Kemudian, dengan upaya vaksinasi global besar-besaran pada tahun 1977, penyakit itu lenyap. Dan hari ini, tidak ada seorang pun yang sakit cacar. Renungkanlah hal ini dari 300 juta orang menjadi nihill Tidak seorang pun terpapar cacar
Masalah dengan penderitaan bukanlah bahwa dunia telah menjadi semakin buruk. Oh ya, itu sangat buruk, dan ia mendokumentasikan keburukannya. Tetapi masalah terburuk adalah bahwa selama ribuan tahun, dunia mengalami penderitaan mengerikan yang jauh lebih buruk dibandingkan sekarang.
"Jadi, John Piper, bagaimana saya bisa tetap menjadi orang percaya sementara penderitaan
ARTIKEL TEOLOGI
ringan yang sedang saya hadapi, secara langsung dan tidak langsung membuat saya cemas?"
Berikut kesaksian saya. Saya rasa saya telah mendapatkan tiga pemikiran mengenai hal ini,
Alkitab Tidak Naif
Satu, hal pertama yang mencengkeram saya adalah realisme Alkitab yang absolut. Saya menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk menulis sebuah buku tentang providensia (penyediaan) Tuhan. Dan bulan demi bulan saya terkagum-kagum tentang betapa Alkitab begitu jujur dan terbuka, blak blakan, bahkan bersimbah darah dalam menyajikan penghukuman Tuhan atas dunia, khususnya atas umat-Nya (Ulangan 28:22, 25-28, 45, 47)
Alkitab tidak menutupi peristiwa menakutkan atau ketidakadilan yang terjadi di dunia ini. Jadi, keberatan-keberatan kita terhadap rancangan Tuhan bukanlah karena kita telah melihat lebih jelas atau lebih jujur daripada yang Alkitab lihat. Alkitab tidak menutupi peristiwa menakutkan atau ketidakadilan yang terjadi di dunia ini. Itu adalah langkah pertama saya. Saya tidak bisa membuang Alkitab karena Alkitab naif atau menipu, atau menutupi kesengsaraan yang Tuhan sendiri tetapkan.
Penderitaan Bersaksi tentang Dosa
Kedua, kengerian fisik di dunia ini akan menjadi masuk akal, bermakna dan akhirnya mendapatkan penyelesaian yang benar hanya jika kita menerima kenyataan alkitabiah bahwa berdosa terhadap Tuhan yang mahabijaksana, mahaadil, dan mahabaik adalah suatu kekejaman moral yang lebih besar daripada kekejaman fisik akibat penderitaan global yang terjadi selama berabad-abad
Izinkan saya mengatakan hal itu lagi, karena ini adalah inti dari permasalahan, dan sangat sulit diterima banyak orang tanpa karya masif Roh Kudus: Kengerian fisik di dunia ini akan menjadi masuk akal, bermakna dan akhirnya mendapatkan penyelesaian yang benar hanya jika kita menerima kenyataan alkitabiah bahwa berdosa terhadap Tuhan yang mahabijaksana, mahaadil, dan mahabaik adalah suatu kekejaman moral yang lebih besar daripada kekejaman fisik akibat penderitaan global yang terjadi selama berabad-abad
Saya tidak mengatakan bahwa setiap pengalaman penderitaan terkait dengan dosa tertentu yang
dilakukan seseorang. Kalau itu yang terjadi, kita semua akan berada di neraka. Sejauh yang dapat saya katakan, dan sejauh yang Alkitab singkapkan, tidak ada korelasi Jelas antara tingkat penderitaan seseorang di dunia ini dengan tingkat kesalahannya (Roma 8:20-23).
Rintihan dan rasa sakit akibat penderitaan yang dirasakan seluruh makhluk adalah karena "ditaklukkan (ayat 20), penaklukkan makhluk ciptaan, dan apa yang ayat 21 sebut sebagai "perbudakan kebinasaan". Dan penaklukkan dan kebinasaan ini adalah karena seorang Pribadi yang menaklukkannya "di dalam pengharapan" yaitu Tuhan
Inilah yang saya maksudkan bahwa dosa yang masuk ke dunia melalui Adam dan diturunkan kepada semua orang adalah suatu kekejaman moral yang lebih besar daripada kekejaman fisik dari penderitaan. Artinya, memandang dan mempercayai kebaikan dan keadilan Tuhan membutuhkan Revolusi Copernicus yang melibatkan pikiran dan hati kita (Revolusi Copernicus adalah perubahan paradigma dari anggapan sebelumnya bahwa bumi adalah pusat alam semesta, menjadi model heliosentris yang menyatakan bahwa matahari adalah pusat tata surya).
Agar dapat melihat Tuhan sebagai Pribadi yang baik, adil dan bijaksana, kita harus menjalani perubahan mental dan spiritual yang melibatkan pikiran dan hati. Dengan demikian, Tuhan tidak lagi menjadi sebuah "planet" yang mengitari "matahari umat manusia", tetapi menjadi "matahari yang sangat besar, bersinar terik, dan agung di pusat tata surya. Tuhan menjadi realitas yang tertinggi. Keberadaan-Nya menjadi nilai tertinggi dan harta tak ternilai bagi alam semesta.
Semua penderitaan manusia adalah jeritan kesaksian tentang kengerian dosa manusia yang lebih besar. Hanya dengan cara ini kekejaman moral dari dosa dipandang lebih buruk daripada kekejaman fisik dari penderitaan. Inilah sebabnya ketika saya terkesiap melihat gambar-gambar mengerikan dalam film dokumenter itu, saya spontan berkata, "Oh Tuhan, oh Tuhan, apa maksud semua ini?"
Maka jawaban yang saya dengar adalah, "Semua penderitoan manusia adalah sebuah jeritan kesaksian tentang kengerian dosa manusia yang lebih besar."
Kristus Mati bagi Orang Berdosa
Akhirnya, hal ketiga yang meneguhkan saya untuk tetap percaya adalah bahwa Allah mengutus Anak-Nya ke dunia ini, mengutus diri-Nya sendiri, untuk menderita kekejaman moral yang lebih besar daripada kekejaman akibat dosa semua orang yang menentang Bapa-Nya. Bagi Anak Allah yang sangat murni, baik, bijaksana, kuat dan suci, mengalami penurunan martabat dan penyiksaan penyaliban Romawi merupakan penderitaan dan
enghinaan yang cukup untuk menutupi semua kekejaman dari. seluruh dosa semua orang yang percaya.
Sebab itu, semua orang yang percaya akan memiliki hidup kekal, Semua orang yang percaya akan memiliki sukacita kekal "Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati. untuk kita, ketika kita masih berdosa," (Roma 5:8).
Jadi, saya tidak mengklaim bahwa iman semacam itu sederhana atau mudah. Itu adalah sebuah karunia, dan saya hanya menyaksikan bahwa sampai saat ini saya masih tetap seorang Kristen.
*) John Piper (@JohnPiper) adalah pendiri dan pengajar di "desiringGod.org"
dan rektor di Bethlehem College & Seminary. Selama 33 tahun ia melayani sebagai pendeta di
Bethlehem Baptist Church, Minneapolis, Minnesota, la menulis lebih dari 50 buku,
termasuk Desiring God: Meditations of a Christian Hedonist dan yang terbaru Providence.
Artikel ini merupakan kerjasama antara LLB dan Desiring God Ministries
Belanja
Akun
Sumber
Support
Copyright © 2026 Kabaria