KADO NATAL KAMI - Karya Pemenang Juara 3 Lomba Menulis Cerita Fiksi PLKI 2026 Tingkat SMA

8 Oktober 2026, 23:09

KADO NATAL KAMI - Karya Pemenang Juara 3 Lomba Menulis Cerita Fiksi PLKI 2026 Tingkat SMA

13

Penulis: Aileen Gisellyan P. (SMAK 1 BΙΝΑ ΒΑΚΤΙ)


"Pagiku cerahku! Matahari bersinar, kugendong tas hijauku di pundak!", nyanyi seorang anak dengan senyuman lebar, memperlihatkan giginya yang ompong di depan. Kulitnya kuning langsat, sedikit lebih gelap dari warna sawo matang, gembul pipinya seakan tupai yang menimbun makanan, Cakara namanya atau yang orang-orang panggil, Caka.

Plakk! Bergema lantang bunyi pukulan tangan, disusul eluhan kecil Caka yang sekarang jongkok di tanah, mengusap belakang kepalanya. Anak yang lain berdiri di belakangnya, sama mungil dan gembulnya, hanya, sedikit lebih kurus dan terbentuk badannya, Hastanta disebut orang.

"Hei Caka! Bukan gitu nyanyinya, tasnya itu biru, bukan hijau!" tegur Hastanta yang berdiri tegap di belakang Caka, tangannya terkepal di pinggang. "Masa begitu aja gak tau sih!" sambungnya lantang dengan penuh percaya diri sambil menunjuk ke arah Caka.

"Ngga kok! Memang hijau," Caka berdiri cepat, mukanya merengut kesal, tapi malah terlihat lucu. "Kau setuju denganku kan, Yuwa?" tengoknya tajam ke anak separuh bule di belakang Hastanta yang membawa tas ransel dan sedang baru saja sampai setelah berlari menyusul keduanya ke depan pintu kelas. Matanya hitam, rambutnya kecoklatan dan kulitnya seputih salju, seperti orang eropa bentuk wajahnya, tampan namun tak kalah elok. "Hah.. eh? Apa yang kalian bicarakan tadi?" tanya Yuwa terengah sambil tertawa canggung dan menggaruk pipinya yang tidak gatal. Cakara dan Hastanta melongo menatap Yuwa, hanya menghela nafas, tak jadi berdebat.

Teng- Teng- Teng- Bel sekolah berbunyi persis ketika Cakara, Hastanta, dan Yuwa masuk ke ruang kelas. Tak lama, seorang guru juga masuk membawa buku absen dan kapur putih. "Selamat pagi anak-anak.." suaranya lembut merdu menyapa anak-anak yang berlarian ke kursi mereka masing-masing.

"SELAMAT PAGI BU RAHMI!" balas anak-anak kelas dengan ceria dan kompak. "Baik, sekarang buka dan tulis tanggal hari ini, kita akan belajar menulis pantun seperti yang Ibu bilang kemarin" umum Bu Rahmi tegas dan lembut, memasang kacamatanya dan mengambil kapur, mencoret papan hijau depan kelas sambil bergumam pelan membaca yang ditulisnya. "Dua puluh lima.. desember... dua ribu dua empat.. baik, sudah semuanya?"

"Sudah Bu!" "Hasta belum, Bu!" "Hei! sudah kok"

Bunyi nyaring anak-anak saling saut menyaut memenuhi ruang kelas sederhana itu. Bu Rahmi hanya tertawa halus sebelum berhenti, melihat Cakara yang mengangkat tangan mungilnya setinggi mungkin, mukanya merengut berusaha. "Ya, Caka?"

"Bu, apakah kita akan dapat hadiah hari ini? Yuwa cerita, hari ini akan dapat!" tanya Caka semangat, mukanya sumringah. Bu Rahmi tertegun kebingungan, tak mengerti maksud hadiah yang ditanyakan muridnya. Ditambah lagi, Yuwa yang ada di sebelah Caka mengangguk dan ikut menatapnya penuh harap, membuatnya semakin heran. "Hari ini.. 25 Desember Bu..Ayah Ibu bilang, hari ini hari spesial" ucap Yuwa pelan, mengulang tanggal seakan mengingatkan sesuatu yang sudah jelas. Bu Rahmi merenung sejenak, seakan sadar sesuatu namun, memutar badannya kembali ke papan dan mulai menulis materi dari buku yang la bawa waktu masuk. "Maaf Caka, Yuwa, kalian tidak akan dapat hadiah hari ini,"

"Tapi kan hari ini Natal Bu!" saut Hastanta yang ikut mendengar kedua sahabatnya yang berbincang dengan guru. Anak-anak lain masih berisik, bermain atau berbicara satu sama lain. Bu Rahmi hanya berhenti menulis sebentar dan mengangguk pelan, memandangi ketiga anak yang bersahabat itu lalu melanjutkan tulisannya lagi, tak menjawab sautan Hastanta. Tiga sejoli itu saling melayangkan pandang bingung dan sedikit kecewa melihat tanggapan guru mereka.

Sejak saat itu, mereka sering menanyakan atau sekadar menyinggung topik perayaan natal kepada para guru, bahkan teman-teman dan orang tua teman-teman mereka, yang hanya merautkan muka heran dan bingung, ada juga yang masam dan tak peduli. Akhirnya, mereka memendam keinginan mereka dan tidak menanyakannya lagi. Cakara, Hastanta, dan Yuwa, ketiga anak beragam rupa dan sifat ini adalah sahabat karib di sebuah desa adat yang terletak di kaki gunung yang cukup jauh dari kota. Tak terlalu jauh sampai tak mengenal teknologi dan pendidikan, tak terlalu dekat sampai mengalami apa yang anak-anak kota anggap biasa. Mereka adalah anak-anak dari satu-satunya tiga keluarga Kristen antara puluhan keluarga lainnya di desa. Di sini, Natal belum pernah dirayakan, disebut pun jarang.

Berbulan-bulan setelah itu, gunung tempat desa itu berada mulai memunculkan gejala-gejala erupsi yang hampir tak terlihat atau bahkan terasa, belasan keluarga desa sudah mulai mengungsi ke tempat lain karena takut, keluarga Cakara dan Hastanta termasuk di dalamnya. Di sisi lain, sebagian besar warga tetap tinggal, mengira gejala-gejala kecil itu sebagai hal yang akan lewat begitu saja. Satu saat, tak disangka oleh siapapun, gunung itu tiba-tiba meletus hebat. Memakan nyawa semua warga yang memilih untuk tetap tinggal. Keluarga Cakara, Yuwa, dan Hastanta memutuskan untuk pindah ke kota beberapa waktu setelah musibah itu terjadi. Ketiganya pergi ke kota yang berbeda-beda, terpisah satu sama lain, namun masih saling berkabar lewat surat.

Tahun demi tahun terlewati, sekarang ketiganya sudah meranjak dewasa ke usia remaja. Takdir tak menunggu waktu, Cakara dan Hastanta tak sengaja bertemu kembali pada masa liburan, tepatnya, libur Natal. "Cakara, itu belakangmu!"

Dakk! Cakara dan Hastanta, keduanya sedang menulusuri pasar malam di tengah kota, Cakara bersama teman-temannya yang baru, dan Hastanta sendirian yang fokus memandangi gawainya sebelum keduanya bertabrakan. "Hastanta?! Itu kamu?" Cakara mengucap lantang sambil berdiri kaget. Hastanta memutar badannya dan membalas lantang juga, "Loh,, Caka?!" Muka Caka berubah riang hampir melompat ketika berdiri dan menarik peluk Hastanta yang masih ditengah membersihkan celananya yang kotor saat jatuh tadi. la tertawa lebar, memeluk Hastanta erat-erat. Hastanta ikut tertawa, "Sejak kapan kamu disini? Bukannya kamu pindah ke Jogja?". la memukul belakang kepala Cakara selagi berbicara, membuat Cakara terjongkok seperti waktu la kecil, mengusap belakang kepalanya. "Dasar, kebiasaan!" omel Cakara yang menengok kebelakang, masih mengusap kepalanya perlahan sambil cemberut.

Melihat hal ini, teman-teman Cakara yang lain mengucapkan salam mereka dan pergi, membiarkan Cakara melanjutkan obrolan asiknya dengan Hastanta. Keduanya berbincang dari sejak senja mulai larut hingga tengah malam, tak ada habisnya obrolan mereka yang saling menceritakan kehidupan selama mereka terpisah dan juga terkagum dengan takdir, SMA yang akan mereka masuki ternyata sama, begitu pula dengan tempat kos. "Kapan kamu kesini Has?"

"Baru minggu lalu, nanti SMA ku di sini, SMA Puspita Mulya, kalo kamu?" "Loh, aku juga masuk SMA situ! aku pindah kesini 1 bulan lalu, yaa biasalah, jadi anak kos mandiri" dengus Cakara bangga sambil mengusap bawah hidungnya. "Tapi, kalo Yuwa yang ngomong mandiri aku sih percaya, kalau kamu mah.." ucap Hastanta sengaja tak selesai diiringi tawa pelan, menyenggol bahu sahabatnya yang sekarang meliriknya tajam sambil cemberut.

Menelusuri jalan raya yang sekarang hampir tiada kehidupan, keduanya menikmati keberadaan satu sama lain, terkadang diam, terkadang tertawa, terkadang saling mengejek. Sampai akhirnya mereka diam dan duduk di depan gerbang kos, keduanya saling menatap satu sama lain, tak rela masuk dan berpisah lagi. "Omong-omong tentang Yuwa, kabarnya gimana ya? sudah lama aku gak dapat surat darinya, atau pindah ke negara Ibunya di Eropa ya?" Hastanta memulai obrolan mereka kembali. "Blasteran jadi murnian dong" ucap Cakara tertawa konyol dengan gurauannya sendiri, Hastanta ikut tertawa kecil menyenggolnya dari samping lalu terdiam memandangi tanah. "Katamu, dia sudah pernah ngerayain natal belum ya? Kaya mimpi kita bertiga waktu dulu" Hastanta memulai lagi, membuat Cakara ikut merenung sejenak, "Entahlah.."

Cakara kemudian berdiri tiba-tiba. "OH ya, Has, aku tahun ini mau ikut jadi panitia natal sekolah yang terbuka untuk umum itu, kamu juga kan?". Hastanta membalas mengangguk menunggu Cakara melanjutkan lagi, "Kan itu terbuka untuk umum, gimana kita sekalian kita coba kirim surat lagi ke Yuwa, mungkin kita bisa ketemuan!"

Hastanta duduk tegap, berdiri di detik selanjutnya dan lagi-lagi memukul belakang kepala Cakara sambil tertawa, "Caka, kamu makan apa sampe jenius begini? Tapi memangnya kamu tau kirim surat kemana? Terakhir aku kirim dua bulan lalu ke alamatnya, gak ada balasan sampai sekarang" sambung Hastanta mengingat kiriman suratnya yang tak mendapat jawaban itu. Cakara tersenyum lebar, seolah bangga lalu mengepalkan kedua tangan di samping pinggangnya, "Jangan remehkan sahabat mu ini, aku dapat alamatnya dari orang tua ku hahaha!". Hastanta melongo, mengacungkan kedua jempol tangannya dan mengangguk, suara tepuk tangannya menggelegar di depan gerbang kos yang sepi, "Sekali-kali ini ku akui kepintaranmu Caka" ucap Hastanta dengan muka mengejek sambil menepuk pundak sahabatnya itu. "Maksudmu selama ini aku bodoh?!" Cakara membalas lantang sambil bercanda memukul bahu Hastanta.

"Hey! Berisik! sudah malam!" teriak salah satu penghuni kos, membuat keduanya malu dan terburu-buru masuk ke kamar kos Hastanta sambil cekikikan. "Maaf pak!" Teriak Cakara membalas teguran penghuni kos. Malam itu, keduanya menuliskan surat untuk dikirim ke sahabat mereka, Yuwa.

YUWA! bagaimana kabarmu? Sudah lama gak dengar, kamu sekarang dimana? Jangan bilang kamu khianatin kita beneran jadi orang bule haha! Aku dan Hastanta tak sengaja ketemu di Medan 25 Desember kemaren, SMA kami ternyata sama, tempat kos pun sama! Heran kan? Mungkin ini hadiah natal dari Tuhan nemuin kita. Ngomongin natal, aku dan Has disini udah ikut acara natal tahun-tahun terakhir, kayak yang dulu kita impiin, tapi gak barengan sih, kamu gimana? Kata Has, ga lengkap kalo sendiri apalagi cuma berdua, sini Wa, ke Medan, tahun depan, SMA kami ngadain acara natal yang terbuka untuk umum, siapapun boleh ikut acaranya, kami bakal daftar jadi panitia, kamu bakal ikutan kan?-Cakara

Hai Yuwa, kamu baik-baik aja kan? Jangan dengerin si Caka ngejekin kamu pengkhianat, tau sendiri dia suka bercanda ga jelas. Oh ya, kaya yang Caka ngomong, sekolah kami akan buka acara natal umum, dateng ya. Gitu-gitu, Caka tadi nangis mau rayain natal bertiga, persis kaya impian kita waktu dulu di desa. Sekalian kirim nomor hape mu ya Wa.-Hastanta

Pagi-paginya kedua surat itu mereka kirim ke alamat Yuwa yang Cakara dapatkan. Sekarang, mereka hanya tinggal menunggu, jawaban dari sahabat mereka.

Sejak saat itu, waktu melayang begitu saja dan hari sudah memasuki awal September. Semarak natal mulai diangkat, begitu juga dengan sekolah Cakara dan Hastanta, pendaftaran kepanitiaan Natal sudah dibuka. Tak pernah lalai, setiap pagi keduanya selalu mengecek kotak pos tempat kos an mereka, bahkan sampai menanyakan Ibu kos apakah ada surat yang datang. Tapi, jawaban sahabat mereka belum juga ada. Tak mau kehilangan harapan, keduanya terus mengirimkan surat-surat yang baru, entah menyindirnya sudah asing, mengajak ikut perayaan natal, atau sekedar menceritakan hari-hari mereka, tentunya tak lupa, selalu menyampaikan keinginan untuk bertemu.

Hei Yuwa! Balas dong surat kami, jangan-jangan kamu sudah lupa sama kami? -Cakara

Yuwa, bagaimana kabarmu lagi? Andai saja kamu disini, Cakara ga akan semakin parah tingkah anehnya, semakin hari semakin heboh sampai bingung aku bagaimana menegurnya. Malu-maluin. Bagaimana caranya dulu dia nurut sama kamu sih? Oh ya, aku dan Cakara terpilih jadi pemimpin persiapan perayaan natal, dengar-dengar hanya sedikit yang daftar jadi panitia persiapan. Kapan kamu kesini?-Hastanta

Keseharian mereka terus begitu, pelajaran, persiapan natal, pulang, menulis surat untuk Yuwa dan berulang lagi. Sampai akhirnya, dua bulan sebelum perayaan natal itu harus dimulai, kepala sekolah memanggil Cakara dan Hastanta ke ruangannya. Tanpa harus berkata-kata, keduanya kompak menebak kalau ada masalah yang terjadi dengan perayaan natal yang akan diadakan. Dan benar saja kepala sekolah berniat untuk membatalkan acara natal, karena tidak ada panitia. Ternyata, hanya Cakara dan Hastanta yang tersisa dalam kepanitiaan, yang lain menyerah mempersiapkan acara besar hanya dengan sedikit orang, kebanyakan lebih memilih untuk menjadi pengisi acara tanpa mau mempersiapkan yang lainnya. Mendengar hal itu, Cakara dan Hastanta hanya mengangguk pelan, masih tak bisa percaya. "Pak, ijinkan kami sebagai pemimpin persiapan selama ini, untuk memikirkannya dahulu.." Hastanta menunduk kepada kepala sekolah. "Hastanta, Cakara, saya tahu kalian sudah lama mempersiapkan ini dengan sungguh, tapi tidak mungkin semuanya selesai hanya dengan kalian berdua sedangkan tinggal dua bulan lagi waktu kita, pula pelaksanannya, tak mungkin hanya kalian yang menjadi panitia" hela kepala sekolah, raut mukanya khawatir dan bersalah melihat Hastanta yang masih tertunduk kepalanya.

"Kami, kami tahu Pak, besok, berikan kami waktu sampai besok saja. Acara ini, terlalu penting untuk kami tinggalkan begitu saja". Cakara sekarang berbicara pelan, mukanya ketat, menundukkan kepalanya juga. Melihat dan mendengar keduanya, Kepala sekolah hanya menggelengkan kepalanya. "Baiklah, Bapak tunggu besok pagi, tidak lebih". Dengan itu Cakara dan Hastanta saling menatap satu sama lain dan mengangguk cepat.

Sepulang sekolah, ketika ruang kelas sudah kosong, murid-murid lain sudah pulang. Hastanta masih berada di ruang seni, membuat properti untuk acara natal Desember nanti. Cakara memasang muka miris melihatnya, "Has, bagaimana? Natal itu.." Cakara duduk disamping Hastanta, membantunya memotong triplek yang sudah dipenuhi pola. "Caka, kita gak bisa batalkan acara ini." ucapnya pendek, suaranya tersendat. "Tapi ini mustahil Has, dua bulan.. semuanya belum beres, panggung, jalan acara, properti, semuanya. Masih ada nanti-" "Kapan kalau bukan sekarang?"potong Hastanta dengan mata berkaca-kaca. "Cakara, Yuwa.. dia sakit."

Cakara hanya tertegun, tangannya yang memotong triplek terhenti. "Yuwa, apa maksudmu? Sakit apa? Has, kamu tau dari mana?" Cakara menjatuhkan barang yang dipegangnya, beralih memegang bahu Hastanta. "Surat, tadi pagi, Ibunya mengirim surat, sekalian nomor telepon Yuwa. Tapi kabar yang di dalam, cuma minta maaf karena Yuwa sakit. Letusan yang dulu, keluarga Yuwa gak ikut mengungsi, Yuwa, gak sengaja terlalu banyak hirup asap letusan. Organnya bermasalah, sekarang masih hidup pun masih syukur. Ibunya bilang itu rahasia, Yuwa kaget kita mengontaknya lewat surat dan bilang dia akan datang nanti. Makanya, gak bisa, harus tahun ini." sendat Hastanta lagi, tidak menangis tapi matanya merah. Cakara bahkan tak bisa berkata-kata, hanya menggertakkan giginya, "Kalau tidak ada anak sekolah yang mau, kita cari yang lain." Cakara tiba-tiba berkata, membuat Hastanta kaget. "Maksudnya? Memangnya kepala sekolah akan memberi ijin? Lagian, siapa yang mau bantu kita?"

Cakara tersenyum lebar dan berdiri, satu tangannya mengepal di pinggang, satunya menunjuk ke dadanya, "Tenang, aku punya banyak teman di kota ini! Ingat waktu pertama kali kita ketemu?". Hastanta berusaha mengingat kejadian waktu pertama bertemu dan memang waktu itu ada banyak orang yang sedang asyik ngobrol bersama dan dibelakang Cakara, sampai akhirnya pergi karena melihat Caka begitu seru berbincang dengan dirinya. Mulutnya ternganga membentuk huruf O saat teringat, "Caka, kamu penyelamat di waktu tak terduga." Hastanta bergumam pelan sambil membuka gawainya, ada notifikasi yang masuk.

tulili- tulali- tulili- Terdengarlah bunyi gawai Hastanta yang menunjukkan kontak dinamakan, 'Yuwa'. Hastanta dan Cakara kaget bersamaan dan Hastanta hampir menjatuhkan gawainya untuk mengangkat telepon Yuwa. "YUWA?!" Keduanya serentak begitu panggilan video yang mereka jawab memperlihatkan Yuwa di rumahnya. Jauh lebih tampan dari sejak kecil, hampir seperti artis-artis luar negeri yang mereka suka lihat di berita-berita. Yuwa tertawa konyol melihat kedua sahabatnya itu, "Caka, Has! Gimana kabar kalian?" Yuwa berbicara dengan logat kebaratan, tertawa lagi melihat temannya yang takjub sekaligus melongo. "Wa, kenapa bicaramu jadi begitu? Kamu beneran di luar negeri?!" Cakara berteriak mengambil gawai di tangan Hastanta. "Hey-! Hapeku Caka!"

"Iya, aku sudah lihat surat kalian, baru sampai dua hari lalu. Ibuku yang menjawab suratnya, dia tak menulis yang aneh-aneh kan?" Hastanta batuk mendengar pertanyaan Yuwa sedangkan Cakara berdiri tegang sambil tersenyum canggung, "Y-ya, tidak. Katanya kau sehat sekali di sana" Hastanta makin tersedak mendengar jawaban Caka, menatapnya tajam sambil berisyarat kesal dan mengambil gawainya dari tangan Cakara. "Sudah, jangan hiraukan si Caka itu, giliran sudah ketemu begini malah jadi gagap" Hastanta berkomentar, membuat Yuwa tertawa lagi. "Oh ya, perayaan natal yang kalian beritahu, katanya kekurangan panitia kan? Aku tidak akan balik sampai Desember nanti, tapi aku bisa bantu untuk membuat jalur acara, konsep dan video yang kalian butuh, gimana?". Hastanta mengangguk cepat bersama Caka yang sekarang muncul di belakangnya, "Kamu penyelemat Yuwaa!" tangis caka dari belakang Hastanta yang hanya menghela nafas dan menggelengkan kepala. "Kita akan ada pertemuan, aku bisa buat online supaya kamu ikut, awal Desember nanti. Kamu ikut ya Yuwa!" Hastanta tersenyum semangat, dibalas dengan anggukan semangat dari Yuwa. Ketiganya saling bertukar kontak dan berbincang sampai larut malam sambil Hastanta dan Caka pulang ke kos. Akhirnya, tengah malam, panggilan video itu selesai, Yuwa tertidur dan Ibunya mengambil alih, tersenyum hangat mengucapkan terimakasih dan menutup panggilan.

Cakara dan Hastanta serempak menghela nafas panjang, tergeletak di lantai kamar kos Hastanta, puas akhirnya dapat melihat sahabat mereka yang terakhir. Hastanta tiba-tiba duduk lagi dan langsung membuka gawainya, membuat Cakara heran, "Kenapa, Has?"

"Diam dulu, aku mau buat pengajuan untuk ijin mengambil kepanitiaan dari orang luar sekolah, kau juga, kontak teman-teman mu, besok kita datangi kepala sekolah" balasnya sambil mengetik secepat kilat, membuat Cakara terdiam lalu tertawa dan ikut sibuk menghubungi teman-temannya, tekad membakar semangat mereka lagi. "Hey, apa kabar? Iya jadi.."

Esoknya, Hastanta dan Cakara hampir lari ke sekolah. Belasan teman-teman Cakara sudah menunggu di depan gerbang dengan pakaian sekolah agar tidak mengambil perhatian.

BRAKK! Pintu ruang kepala sekolah terbuka kencang tanpa peringatan apapun. "Astaga!! Siapa yang.." Kepala sekolah terdiam di tempatnya memegangi dada, matanya terbelalak melihat belasan orang masuk ke ruangannya. Di hari itu, dengan desakan dan rayuan Hastanta, Cakara ditambah lagi orang-orang yang datang, kepala sekolah memanggil semua guru-guru sekolah untuk memutuskan keputusan akhir bersama, kemudian dengan menjanjikan tidak akan meminta dana dari sekolah, akhirnya ijin penyelenggaraan perayaan natal disetujui kepala sekolah. Tentunya tak lupa, setelah semua teman Cakara keluar, kepala sekolah menegur dan memarahi Hastanta dan Cakara yang tanpa ijin membawa orang luar masuk sembarangan sedangkan guru-guru yang lain hanya tertawa dan takjub akan usaha gila yang dilakukan kedua anak murid mereka. Siang itu, ruangan kepala sekolah dipenuhi tawa kecil serta omelan tajam kepala sekolah yang tidak dihiraukan Hastanta dan Cakara yang tak berhenti menyeringai.

Persiapan perayaan natal pun dimulai lagi, seiring dengan waktu, sebagian anak sekolah ikut terlibat di dalam persiapan natal itu tanpa disuruh. Hari demi hari berlalu, dan tak terasa sudah bulan November, satu bulan sebelum acara diselenggarakan, persiapan acara semuanya sudah selesai, hal yang disangka lama dan rumit ini selesai jauh lebih cepat dengan bantuan anak-anak yang ikut membantu tengah jalan. Selama persiapan Hastanta dan Cakara tak berhenti menelepon Yuwa setiap harinya, setidaknya sekali sehari seakan untuk mengganti tahun-tahun mereka yang terpisah. Pertemuan online yang sudah Hastanta beri tahu pun berjalan dengan lancar. Yuwa juga sampai ke Medan dua minggu sebelum acara, ketiganya berkumpul bersama setiap hari. Bahkan sampai menginap di apartemen yang orang tua Yuwa sengaja sewakan untuk mereka bertiga.

Namun, bagaikan dunia yang tak mau semuanya berjalan indah, tepat dua hari sebelum acara akan diselenggarakan, kondisi Yuwa turun, dan la harus dibawa ke rumah sakit. Orang tua Yuwa walau sedih nampak tidak terkejut lagi, seakan ini adalah hal yang biasa buat mereka. Hastanta pun memohonkan rapat panitia dengan guru-guru kepada kepala sekolah besok paginya. Di ruang guru yang mencekam dan tegang dan dihadiri kepala sekolah itu, mereka berdua menceritakan semuanya, masa kecil mereka yang menjadi motivasi mereka selama ini yang habis-habisan dipakai untuk keberlangsungan acara natal, hingga musibah yang menimpa desa mereka, pertemuan mereka bertiga, serta kondisi Yuwa sekarang. Hastanta dan Cakara yang berdiri di tengah-tengah ruangan itu, menundukkan bukan hanya kepala, tapi badan mereka, untuk mengubah sedikit jalan acara yang sudah disepakati demi sahabat mereka. Guru-guru hanya terdiam mendengarkan cerita mereka, beberapa saling berbisik, ada yang berkaca-kaca, ada yang muram dan kesal mukanya atas usulan dadakan itu. "Pak, Bu, Kami mohon, sekali lagi, sekali ini saja! Ini momen terpenting di hidup kami bertiga." Ucap Hastanta dengan suara tersendat, cakara tak sanggup berkata-kata di ruangan itu. Yuwa masih ditangani di ruang gawat darurat, entah selamat atau tidak.

Kepala sekolah yang berdiri di pojokan akhirnya menghela nafas panjang, dan meminta juga hal itu kepada guru-guru, tak tega melihat dua anak remaja, belum dewasa sudah berjuang begitu rupa berani dan mati-matian demi sahabatnya seorang. Dengan itu, akhirnya guru-guru juga setuju, hanya segelintir yang keberatan, itu pun mereka akhirnya setuju, menganggap ini sebagai penghargaan kedua pemimpin persiapan yang dari awal sudah berjuang.

"Maaf nak, Yuwa.. tidak sanggup tampil seperti yang kalian inginkan awal, datang pun.. la hanya bisa dengan kursi roda." bisik pelan Ibu Yuwa ketika Hastanta dan Cakara menjenguknya di apartemen. Yuwa duduk di kasur, mukanya muram, hampir kesal terhadap dirinya sendiri. Melihat itu, Cakara berteriak kencang, membuat seisi ruangan kaget."Cakara, apa-apaan.." Hastanta mengucap hampir mau memukul belakang kepalanya lagi, namun dihindari dan disela oleh Cakara "Yuwa! Kamu masi hidup kan? Kalau gitu, jangan pasang muka muram kaya gitu! Besok kalau kau gak datang hanya karena malu, aku sendiri yang akan menarikmu dari sini sampai ke sekolah!". Hastanta memucat mendengar ucapan sahabatnya itu sedangkan Yuwa tertegun sejenak lalu tertawa puas. "Baiklah, awas saja kalian meledekku besok!".

Esok harinya, ketika acara dimulai, Yuwa benar-benar datang dengan kursi rodanya. Ibu dan Ayahnya masing-masing di samping kanan kirinya. Dari pembukaan, pertunjukkan, bahkan permainan, semuanya mereka bertiga ikuti bersama. Ketiganya tak terpisahkan selama acara. Sampai akhirnya, ketika langit mulai membercak oranye, lampu panggung dimatikan, Hastanta dan Cakara membawa Yuwa di kursi roda pergi ke atas panggung dan mengambil mic. "EH, Has?! Caka?! kita mau kemana-". Tiba-tiba lampu menyala terang menyorot ketiganya, "WARGA PUSPITA MULYA DAN TEMAN-TEMAN MANA SUARANYAA!!" teriak Hastanta dan Cakara ke mic yang mereka pegang, jawab saut-sautan sorak para peserta dan guru-guru menggelegar memenuhi area sekolah, bahkan meluber ke jalan. Cakara mengangguk ke arah operator dan memulai video, yang isinya kenangan mereka bertiga selama ini. "Kata kalian, apa yang kalian anggap hadiah natal?" Hastanta bertanya pelan, "Hape baru? baju baru? atau uang?" hentinya sejenak, "Tapi kalian tau gak sih, buat kami itu adalah sahabat, sahabat kami Yuwa ada di panggung ini. Sahabat kalian? siapapun itu, tatap mereka dan kalau gak ada di sini, telepon! Dan dalam hitungan ke 3 aku mau kita semua mengucapkan hari natal ke mereka yang menemani keseruan dan kesedihan kalian selama ini." Semua warga di situ tertegun, ada yang langsung menelepon sahabat mereka, ada yang langsung berpelukkan, ada yang terharu ada yang tertawa. Kali ini Cakara yang berteriak tanpa mic, "SATU, DUA, TIGA!!". Detik itu, petasan bersiul meledak warna warni di langit senja, diiringi teriakan semua orang yang mengikuti acara itu. Hastanta dan Cakara berbalik ke Yuwa, mukanya merah terharu, "MERRY CHRISTMAS!!"