Masalah Dalam Khotbah Masa Kini DAN TEOLOGI ALKITABIAH SEBAGAI SOLUSINYA BAG 2
18 Maret 2025, 07:44

79
Solusi bagi masalah dangkalnya khotbah yang dijelaskan pada artikel bagian 1 sesungguhnya sederhana: para pendeta harus belajar bagaimana menggunakan teologi alkitabiah dalam khotbah mereka. Namun sebelum belajar untuk melakukannya, kita perlu memulai dengan pertanyaan, apa itu teologi alkitabiah?
Teologia Alkitabiah versus Teologia Sistematika
Berbeda dengan teologi sistematika, teologi alkitabiah berfokus pada alur cerita alkitabiah. Walaupun teologi sistematika dimaklumkan oleh teologi alkitabiah, itu sifatnya hanya sementara.
Don Carson mengungkapkan, teologi alkitabiah mengambil posisi lebih dekat dengan teks ketimbang teologi sistematika, yang bertujuan untuk mencapai sensitivitas asli sehubungan dengan kekhasan dari setiap kumpulan tulisan, dan berusaha untuk menghubungkan beragam kumpulan tulisan tersebut dengan menggunakan kategori masing-masing. Karena itu secara ideal, teologi alkitabiah berperan sebagai semacam jembatan disiplin ilmu yang mempertemukan antara eksegesis yang bertanggung jawab dan teologia sistematika yang bertanggung jawab (walaupun masing-masing pasti akan saling mempengaruhi keduanya).[1]
Dengan kata lain, teologi alkitabiah dengan sengaja membatasi dirinya pada pesan dari teks atau kumpulan tulisan yang sedang dibahas. Teologi alkitabiah menggali tema apa yang menjadi sentral bagi para penulis Alkitab dalam konteks sejarah mereka, dan berusaha untuk memahami keterpaduan dari tema-tema yang seperti itu. Teologi alkitabiah berfokus pada alur cerita Kitab Suci—membentangkan rencana Tuhan dalam sejarah penebusan.
Sebagaimana akan kita bahas secara lebih mendalam pada bagian 3, ini berarti bahwa kita harus melakukan penafsiran dan kemudian mengkhotbahkan setiap teks dalam konteks hubungan teks itu dengan seluruh alur cerita di dalam Alkitab.
Di lain pihak, teologi sistematika mengajukan pertanyaan terhadap teks yang merefleksikan berbagai pertanyaan atau masalah filosofis pada masa itu. Para ahli sistematika dapat juga—untuk mencapai hasil yang baik— mengeksplorasi tema-tema yang tersirat dalam tulisan-tulisan alkitabiah yang tidak mendapatkan perhatian yang berkesinambungan dalam teks alkitabiah. Tentu saja, menjadi jelas bahwa apapun yang layak disebut sebagai teologi sistematika, dibangun di atas teologi alkitabiah.
Aksen khas teologi alkitabiah, sebagaimana dicatat Brian Rosner, adalah, teologi itu “membiarkan teks alkitabiah mengatur agenda.”[2] Kevin Vanhoozer berpendapat tentang peran teologi alkitabiah secara spesifik dengan mengatakan, “‘Teologi alkitabiah’ adalah nama dari suatu pendekatan alkitabiah yang mengasumsikan bahwa secara tekstual Firman Tuhan dihasilkan melalui beragam kesusastraan, dan kata-kata manusia yang dikondisikan secara historis.”[3] Atau, “Untuk menyatakan klaim tersebut secara lebih positif, teologi alkitabiah berhubungan dengan berbagai kepentingan dari teks itu sendiri.”[4]
Carson mengungkapkan kontribusi teologi alkitabiah dengan baik: Tetapi secara ideal, teologi alkitabiah, sebagaimana tersirat dari namanya, bahkan ketika ia bekerja secara induktif dari beragam teks alkitabiah, berusaha untuk menyingkapkan dan mengartikulasikan kesatuan dari seluruh teks Alkitab yang diambil bersama-sama, terutama mempergunakan berbagai kategori dari teks-teks itu sendiri. Dalam hal ini, ini adalah teologi alkitabiah kanon, teologi alkitabiah ‘keseluruhan Alkitab’.[5]
Teologi alkitabiah bisa saja membatasi dirinya pada teologi Kitab Kejadian, Kitab Taurat (Pentateukh), Injil Matius, Kitab Roma, atau bahkan semua surat Paulus. Namun demikian, teologi alkitabiah bisa juga memahami seluruh kanon dari Kitab Suci, di mana alur cerita dalam Kitab Suci secara keseluruhan terintegrasi.
Terlalu sering para pengkhotbah eksposisi membatasi diri mereka pada Kitab Imamat, Injil Matius, atau Kitab Wahyu tanpa mempertimbangkan di mana letak kitab-kitab tersebut dalam alur kisah rencana penebusan. Mereka memisahkan satu bagian Kitab Suci dari bagian lainnya, dan dengan demikian berkhotbah secara terpotong-potong, dan bukan memberitakan seluruh maksud Allah.
Gerhard Hasel mengatakan dengan tepat bahwa kita perlu melakukan teologi alkitabiah dengan cara “yang berupaya untuk bersikap adil terhadap seluruh dimensi realitas yang ditunjukkan oleh teks-teks alkitabiah.”[6] Melakukan teologia semacam itu bukan hanya tugas para profesor seminari; itu adalah tugas setiap pemberita firman!
Kita merenungkan kembali perbedaan antara teologi sistematik dan teologi alkitabiah, di mana Carson memetakan jalannya.[7] Teologi sistematik mempertimbangkan kontribusi teologi historis, dan dengan demikian menggali karya Agustin, Aquinas, Luther, Calvin, Edwards, dan banyak tokoh lain dalam merumuskan pengajaran Kitab Suci. Teologi sistematika berupaya menyampaikan firman Tuhan secara langsung pada latar budaya dan zaman kita. Dengan demikian, jelaslah bahwa setiap pengkhotbah yang baik harus berakar pada sistematika untuk dapat menyampaikan firman yang mendalam dan berkuasa kepada orang-orang sezamannya.
Teologi alkitabiah lebih induktif dan fondasional. Carson dengan tepat mengatakan bahwa teologi alkitabiah adalah sebuah “disiplin ilmu yang menengahi,” sementara teologi sistematika adalah sebuah “disiplin ilmu yang memuncak.” Dengan demikian, kita dapat mengatakan bahwa teologi alkitabiah adalah penengah, berfungsi sebagai sebuah jembatan antara pembelajaran Kitab Suci secara historis dan kesusastraan dengan teologi dogmatik.
Maka, teologi alkitabiah bekerja dari teks dalam konteks historisnya. Tidak berarti bahwa teologi alkitabiah adalah usaha yang murni netral atau objektif. Gagasan bahwa kita dapat memisahkan dengan tepat apa yang dimaksud (secara historis) dengan apa yang dimaksud (pada masa kini), adalah sebuah angan-angan, sebagaimana dikatakan oleh Krister Stendahl.
Scobie mengatakan hal berikut tentang teologia alkitabiah:
Perkiraannya, berdasarkan komitmen iman Kristen, termasuk keyakinan bahwa Alkitab menyampaikan sebuah pewahyuan ilahi, bahwa firman Tuhan di dalam Alkitab merupakan standar dari iman dan kehidupan Kristen, dan bahwa berbagai materi baik di dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru dalam beberapa hal dapat dihubungkan dengan rencana dan tujuan Tuhan yang satu yang ada dalam seluruh Alkitab. Teologi Alkitabiah semacam itu berdiri di antara apa yang Alkitab ‘maksudkan’ di masa lalu dengan apa yang Alkitab ‘maksudkan’ pada masa kini.[8]
Maka, sebagai akibatnya, teologi alkitabiah tidak dibatasi hanya pada Perjanjian Baru atau Perjanjian Lama, tetapi menganggap keduanya sebagai firman Tuhan. Memang, teologi alkitabiah bekerja dari gagasan bahwa kanonisasi Kitab Suci berfungsi sebagai standarnya, dan kemudian keduanya, Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru dibutuhkan untuk menyingkapkan teologi dari Kitab Suci.
Menyeimbangkan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru
Ada sebuah dialektika yang mengagumkan antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru dalam melakukan teologi alkitabiah. Perjanjian Baru menunjukkan kulminasi sejarah penebusan yang dimulai di dalam Perjanjian Lama, dan karenanya teologi alkitabiah dapat didefinisikan sebagai teologia naratif. Perjanjian Baru menangkap kisah tentang karya penyelamatan Allah dalam sejarah. Penyingkapan historis tentang apa yang telah Allah lakukan dapat dijelaskan sebagai sejarah penyelamatan atau sejarah penebusan.
Bermanfaat juga apabila merenungkan Kitab Suci dari sudut pandang janji Tuhan dan penggenapannya: apa yang dijanjikan di dalam Perjanjian Lama digenapi di dalam Perjanjian Baru. Kita harus berhati-hati jangan sampai menghapuskan kekhususan historis dari pewahyuan Perjanjian Lama, sehingga kita menghilangkan konteks historis yang melahirkan pewahyuan tersebut.
Di lain pihak, kita harus mengenali perkembangan pewahyuan dari Perjanjian Lama sampai Perjanjian Baru. Perkembangan pewahyuan semacam itu mengenali naturnya sebagai pendahuluan di Perjanjian Lama dan firman yang menentukan di dalam Perjanjian Baru. Mengatakan Perjanjian Lama sebagai pendahuluan tidak meniadakan peran pentingnya, karena kita hanya akan memahami Perjanjian Baru ketika kita pun sudah memahami makna dari Perjanjian Lama, dan sebaliknya.
Sebagian orang ragu menggunakan tipologi, tetapi pendekatan seperti itu sangat penting bagi teologi alkitabiah, karena itu adalah sebuah kategori yang dilakukan oleh para penulis Alkitab sendiri.
Apa itu tipologi?
Tipologi adalah kesesuaian atas penetapan ilahi antara peristiwa-peristiwa, orang-orang, dan lembaga-lembaga di Perjanjian Lama dan penggenapannya di dalam Kristus di Perjanjian Baru,[9] Contohnya ketika di dalam Injilnya, Matius menceritakan kembalinya Maria, Yusuf, dan Yesus dari Mesir dengan bahasa seperti keluarnya bangsa Israel dari Mesir (Matius 2:15; Keluaran 4:22, 23; Hosea 11:1).
Tentu saja, bukan hanya pengarang Perjanjian Baru saja yang mengamati “kesesuaian atas penetapan ilahi.” Para pengarang Perjanjian Lama juga melakukannya. Contohnya, baik Yesaya maupun Hosea menubuatkan suatu eksodus baru yang akan berpola seperti eksodus pertama.
Dengan cara yang sama, Perjanjian Lama menantikan seorang Daud yang baru, yang akan lebih agung daripada Daud yang pertama. Jadi, di dalam Perjanjian Lama itu sendiri, kita melihat suatu peningkatan dalam tipologi, sedemikian hingga penggenapan dari suatu tipe selalu lebih besar daripada tipe itu sendiri. Yesus bukan saja Daud yang baru, tetapi Daud yang lebih agung.
Tipologi mengakui sebuah pola dan maksud ilahi di dalam sejarah. Tuhan adalah Sang Pengarang Kitab Suci yang menentukan—kisah-kisah di dalam Alkitab adalah sebuah drama ilahi. Dan Tuhan tahu akhir dari segala sesuatu sejak awal, sehingga kita sebagai pembaca dapat melihat gambaran samar dari penggenapan terakhir di Perjanjian Lama.
*)Penulis adalah profesor penafsiran Perjanjian Baru di Seminari Teologia Baptis bagian Selatan di Louisville, Kentucky, Amerika Serikat dan Pendeta Pengkhotbah di Gereja Baptis Clifton. Anda dapat menemukan sosoknya di Twitter: @DrTomSchreiner.
Catatan kaki:
1. D. A. Carson, “Systematic and Biblical Theology,” dalam New Dictionary of Biblical Theology (eds. T. Desmond Alexander and Brian S. Rosner; Downers Grove: InterVarsity, 2000), 94. Definisi lain diungkapkan oleh Charles H. H. Scobie, “Teologia alkitabiah dapat didefinisikan sebagai pembelajaran yang rapi tentang pemahaman akan pewahyuan Tuhan yang terdapat di dalam kitab suci kanon baik dari Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru” (“The Challenge of Biblical Theology,” Tyndale Bulletin 42 [1991]: 36).
2. Brian S. Rosner, “Biblical Theology,” dalam New Dictionary of Biblical Theology, 5.
3. Kevin J. Vanhoozer, “Exegesis and Hermeneutics,” dalam New Dictionary of Biblical Theology, 56.
4. s.d.a., 56.
5. Carson, “Systematic and Biblical Theology,” 100.
6. Gerhard Hasel, “Biblical Theology: Then, Now, and Tomorrow,” Horizons of Biblical Theology 4 (1982): 66.
7. Untuk diskusi berikutnya, bacalah Carson, “Systematic and Biblical Theology,” 101-02.
8. Scobie, “The Challenge of Biblical Theology,” 50-51.
9. Untuk pendahuluan yang lebih lengkap tentang tipologi, bacalah David L. Baker, Two Testaments, One Bible (IVP, 1976), bab 7.
Belanja
Akun
Sumber
Support
Copyright © 2026 Kabaria