Perspektif Kasih Karunia Allah dari Rahim Seorang Perempuan

25 Juni 2026, 15:38

Wanita
Perspektif Kasih Karunia Allah dari Rahim Seorang Perempuan

82

“Banyak anak, banyak rezeki” adalah pepatah yang sudah lama dikenal di Indonesia. Pepatah ini lahir dari pandangan bahwa kehadiran anak membawa berkat bagi keluarga. Namun, dalam kenyataannya, pandangan seperti ini juga dapat melahirkan tekanan bagi pasangan yang belum atau tidak memiliki anak. Tidak jarang, infertilitas dan kemandulan dikaitkan dengan aib, penurunan nilai sosial, bahkan stigma negatif. Karena itu, isu ini bukan hanya persoalan biologis, tetapi juga menyentuh perasaan, relasi keluarga, dan kehidupan rohani seseorang.


Pergumulan seperti ini bukanlah hal baru. Pada masa Israel kuno, kemandulan sering dianggap sebagai tragedi keluarga yang dapat membawa seseorang pada penolakan sosial, bahkan dari lingkungan terdekatnya (Stein, 2010). Di antara beberapa kisah perempuan mandul dalam Alkitab, kisah Hana dalam 1 Samuel 1 menjadi salah satu kisah yang sangat menyentuh. Penulis kitab 1 Samuel menggambarkan Hana bukan hanya sebagai perempuan yang belum memiliki anak, tetapi sebagai pribadi yang sedang bergumul dengan kesedihan, tekanan batin, dan kerinduan yang sangat dalam (Stein, 2010).


Elkana, suami Hana, beristri dua. Kenyataan ini membuat kehidupan rumah tangga Hana semakin berat (MacArthur, 2005). Dalam keluarga itu ada Penina, istri Elkana yang lain, yang telah memiliki anak laki-laki dan perempuan. Sebaliknya, “Tuhan telah menutup kandungan” Hana. Dalam budaya patriarkal Israel kuno, kondisi ini sangat menyakitkan karena garis keturunan, nama keluarga, dan warisan sangat terkait dengan kehadiran anak, khususnya anak laki-laki. Tanpa anak, seorang perempuan mudah dipandang tidak memiliki masa depan yang aman dalam keluarganya (Handoko, 2019).


Elkana sebenarnya berusaha menghibur Hana. Ia bertanya, “Hana, mengapa engkau menangis dan mengapa engkau tidak mau makan? Mengapa hatimu sedih? Bukankah aku lebih berharga bagimu daripada sepuluh anak laki-laki?” Perkataan ini menunjukkan bahwa Elkana mengasihi Hana, tetapi sekaligus memperlihatkan bahwa ia belum sepenuhnya memahami luka istrinya. Bagi Hana, persoalannya bukan sekadar kurangnya perhatian seorang suami, melainkan kerinduan yang dalam untuk mengalami anugerah menjadi seorang ibu (Handoko, 2019).


Dalam kesedihannya, Hana memilih datang kepada Tuhan. Ia berdoa dan menangis tersedu-sedu di hadapan Tuhan (1 Samuel 1:10). Ia menyebut dirinya sebagai “hamba,” sebuah sikap yang menunjukkan kerendahan hati dan penyerahan diri kepada Allah (1 Samuel 1:11). Ketika Imam Eli melihatnya, ia sempat menyangka Hana sedang mabuk. Namun, Hana menjelaskan bahwa ia bukan mabuk, melainkan sedang mencurahkan isi hatinya yang berat di hadapan Tuhan (1 Samuel 1:15). Setelah mendengar penjelasan itu, Eli memberkati Hana.


Sesudah menerima berkat dari Eli, Hana pergi, makan, dan wajahnya tidak muram lagi (1 Samuel 1:18). Perubahan ini menarik, sebab pada saat itu doanya belum dijawab secara nyata. Hana belum hamil, Samuel belum lahir, dan keadaan lahiriahnya belum berubah. Namun, imannya telah menemukan tempat bersandar. Ia percaya bahwa Tuhan mendengar doanya. Pada waktunya, Hana mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Samuel. Melalui nama itu, Hana mengingat bahwa Tuhan adalah Allah yang mendengar seruan umat-Nya.


Ada hal yang indah dalam kisah ini. Nama Hana berasal dari bahasa Ibrani Channah, yang berkaitan dengan pengertian kasih karunia atau kemurahan. Selain itu, kata Ibrani rekhem berarti rahim, dan dalam rumpun makna yang dekat, rahim sering dikaitkan dengan belas kasih dan kemurahan. Dari sini kita dapat melihat sebuah gambaran yang sangat dalam: rahim bukan hanya tempat lahirnya kehidupan, tetapi juga dapat menjadi tanda kasih karunia Allah yang bekerja di tengah kelemahan manusia.


Kasih karunia Allah melalui seorang perempuan juga terlihat dalam garis besar kisah keselamatan. Sejak manusia jatuh dalam dosa, Allah telah memberikan janji bahwa keturunan perempuan akan meremukkan kepala ular (Kejadian 3:15). Janji ini menunjukkan bahwa Allah tidak meninggalkan manusia dalam kerusakan dosa. Pada puncaknya, melalui rahim seorang perempuan, yaitu Maria, Yesus Kristus lahir ke dunia sebagai Juruselamat. Dengan demikian, rahim seorang perempuan menjadi bagian dari cara Allah menyatakan kasih, pengharapan, dan karya penebusan-Nya bagi manusia.


Karena itu, kita tidak boleh secara kasar menilai bahwa perempuan yang mandul adalah perempuan yang terkutuk atau jauh dari kasih karunia Allah. Kisah Hana justru mengajarkan hal yang sebaliknya. Dalam penderitaannya, Hana tidak menjauh dari Tuhan. Ia membawa luka, air mata, dan kerinduannya ke hadapan Allah. Hal yang serupa juga terlihat dalam kisah Sara dan Elisabet. Dalam penantian yang panjang, Allah tetap bekerja menurut waktu dan rencana-Nya. Kemandulan bukan tanda bahwa seseorang ditolak Allah; sebaliknya, dalam banyak kisah Alkitab, justru di tengah kelemahan manusia, kasih karunia Allah dinyatakan dengan indah.


Melalui kisah Hana, kita belajar bahwa Allah memperhatikan air mata seorang perempuan. Ia mendengar doa yang lahir dari hati yang hancur, dan Ia sanggup memakai kehidupan yang terluka untuk menyatakan kemuliaan-Nya. Rahim seorang perempuan menjadi salah satu ruang tempat Allah menyatakan kehidupan, belas kasih, dan pengharapan. Namun, kasih karunia Allah tidak dibatasi oleh kemampuan seseorang untuk melahirkan anak. Kasih-Nya tetap hadir bagi setiap perempuan, baik yang telah menjadi ibu maupun yang masih menanti dalam pergumulan.


Demikianlah Allah menunjukkan kasih karunia-Nya melalui rahim seorang perempuan. Dari kisah Hana, garis kasih karunia itu terus mengarah kepada karya Allah yang lebih besar, yaitu kelahiran Yesus Kristus ke dunia untuk menebus dosa dan memulihkan hubungan manusia dengan Allah. Pada akhirnya, tulisan ini mengajak kita untuk melihat perempuan bukan dari stigma sosial atau ukuran budaya, melainkan dari kacamata kasih karunia Allah. Terpujilah Tuhan, Allah yang mendengar, memulihkan, dan melimpahkan kasih karunia-Nya.


Penulis: Agatha Elienai

Editor: Eliezer K. F.