Pulang ke Akar: Pendidikan Iman Baptis sebagai Tanggung Jawab Bersama

21 Januari 2026, 14:57

Pulang ke Akar: Pendidikan Iman Baptis sebagai Tanggung Jawab Bersama

25

Pendidikan iman adalah cermin arah gereja. Ia menunjukkan apa yang diyakini, dijaga, dan diwariskan oleh sebuah komunitas iman. Dalam perjalanan umat Baptis di Indonesia, pendidikan gereja telah menjadi sarana penting dalam pembinaan umat. Karena itu, refleksi ini mengajak gereja-gereja Baptis untuk bersama-sama menata kembali pendidikan iman sebagai tanggung jawab bersama, demi kesatuan dan pertumbuhan Tubuh Kristus.

 

Dr. Mariani Harmadi

 

Refleksi tentang pendidikan iman tidak dapat dilepaskan dari jejak sejarah yang membentuknya. Untuk memahami ke mana umat Baptis melangkah hari ini, kita perlu menengok kembali bagaimana fondasi pendidikan iman itu mula-mula diletakkan. Sejarah Gereja Baptis di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari pelayanan para misionaris Baptis dari Amerika yang merintis gereja dan membangun fondasi iman melalui pendidikan.


Para misionaris Baptis di Indonesia, a.l., Gerald Pinkston, John Ingouf, Fay Taylor, McElrath, Betty McElrath, Ditsworth menyadari bahwa gereja yang bertumbuh memerlukan lebih dari semangat rohani sesaat. Artinya gereja membutuhkan pengajaran iman yang sistematis, agar Injil dipahami, dihidupi, dan diwariskan kepada generasi penerus. Kesadaran inilah yang melahirkan pelayanan literatur dan pendidikan gerejawi di Surabaya. Kala itu lembaga ini bernama Pusat Penerbitan Geredja-Geredja Baptis dan kemudian berkembang menjadi Lembaga Literatur Baptis (LLB).


LLB hadir sebagai wujud tanggung jawab bersama untuk menyediakan bahan ajar Sekolah Minggu yang berakar pada iman Baptis, disusun secara terencana untuk digunakan oleh gereja-gereja Baptis di berbagai daerah dengan latar budaya yang beragam. Kurikulum dirancang untuk pemenuhan kebutuhan rohani yang menyeluruh dari anak hingga dewasa yang dibimbing secara berkesinambungan dalam pokok-pokok iman Kristen.


Pada masa-masa awal hingga beberapa dekade kemudian, kurikulum LLB menjadi andalan utama gereja-gereja Baptis. Melalui bahan ajar yang sama, umat Baptis dibina dalam satu kerangka ajaran, sekalipun berada di wilayah geografis dan konteks budaya yang berbeda. Inilah salah satu kekuatan Umat Baptis yaitu berada dalam kesatuan iman. Namun, seiring dengan perkembangan dan dinamika pelayanan, serta meningkatnya kesadaran kontekstual, situasi ini mengalami perubahan.


Berdasarkan pengamatan dan data dari pemesanan, sebagian gereja Baptis tidak lagi menggunakan kurikulum yang diproduksi oleh Lembaga Literatur Baptis. Tidak sedikit yang telah beralih ke bahan ajar lain atau menyusun kurikulum sendiri. Pergeseran ini perlu dibaca bukan sekadar sebagai variasi praksis, tetapi sebagai tanda teologis yang menuntut kepekaan dan tanggung jawab bersama dalam menafsir arah pendidikan iman Baptis hari ini.


Dengan mengingat kembali sejarah perintisan LLB—yang lahir dari visi misi, pendidikan, dan kesatuan iman—gereja-gereja Baptis diundang untuk pulang ke akar, sebagai sebuah keputusan iman bersama, bukan demi keseragaman semu, melainkan demi kesatuan yang bertumbuh dalam tanggung jawab untuk mencapai kedewasaan penuh (Efs. 4:13).


Kurikulum Sekolah Minggu Baptis dirancang secara sistematis, berjenjang, dan mencakup seluruh kelompok usia—dari bayi hingga lanjut usia dalam siklus pembelajaran tiga tahun. Dimana pokok-pokok iman Kristen dipelajari secara utuh, berkesinambungan, dan semakin diperdalam seiring pertumbuhan iman jemaat.

 

 

Memahami Kurikulum dalam Tradisi Pendidikan Gereja Baptis

Dalam tradisi Baptis, kurikulum adalah sarana pendidikan iman yang mencakup tujuan pembinaan iman, isi ajaran berdasarkan Alkitab, proses pembelajaran, dan pembentukan hidup umat agar setia kepada Kristus dan Injil-Nya. Pada masa-masa awal, penggunaan kurikulum LLB menjadi kekuatan pemersatu gereja-gereja Baptis dalam satu kerangka iman yang sama, dimana kesatuan ini dibangun melalui pengajaran iman yang searah dan bertanggung jawab. Namun, seiring berjalannya waktu terjadi perubahan dimana sebagian gereja menyusun bahan ajar sendiri. Hal yang perlu direnungkan, apakah dalam proses tersebut menjaga fondasi iman Baptis yang alkitabiah dan injili masih terjaga?

Pendidikan Iman sebagai Proses Pembelajaran Sepanjang Hayat

Pendidikan iman gereja dipahami secara didaktis, yakni sebagai proses pengajaran yang disengaja, terarah, dan berlangsung sepanjang hayat mencakup seluruh kelompok umur mulai dari kanak-kanak, remaja, dewasa, hingga lansia. Semangat belajar sepanjang hayat, dalam tradisi Baptis yang kontekstual dibangun dengan komitmen untuk setia pada Alkitab dan Injil.


Cara mengajar boleh berubah, metode dapat disesuaikan, tetapi kesetiaan pada Injil dan iman Baptis menuntut adanya arah bersama yang disadari, dirawat, dan diwariskan lintas generasi. Kurikulum LLB tidak dimaksudkan untuk membelenggu gereja, melainkan menjadi ruang bersama tempat gereja-gereja Baptis menumbuhkan iman umat secara searah, saling bertanggung jawab, dan saling membangun sebagai Tubuh Kristus.

 

Belajar secara Utuh dan Berkelanjutan: Makna Siklus Tiga Tahun

Siklus tiga tahun dirancang agar seluruh pokok iman Kristen dipelajari secara utuh dan berulang dengan pendalaman pokok materi dan pendekatan yang disesuaikan dengan tahap perkembangan kelompok usia peserta didik. Kurikulum bukan sekadar pilihan praktis. Ia adalah cermin arah iman gereja, sehingga kini saatnya untuk bertanya: apakah pendidikan iman kita sedang mendewasakan umat?


Artikel ini bukan ajakan untuk bernostalgia semata, melainkan sebagai undangan untuk pulang ke akar: kembali kepada Firman Tuhan, Injil Kristus, dan pendidikan iman yang bertanggung jawab. Dengan menata kembali pendidikan iman melalui kurikulum yang terstruktur dan berjangka panjang, gereja-gereja Baptis sedang menyiapkan generasi yang bertumbuh dalam iman dan setia kepada Injil.


Pada akhirnya, pendidikan iman bukan soal memilih bahan mana yang paling menarik, tetapi tentang ke mana hati jemaat diarahkan. Saat kita menata kembali kurikulum, sesungguhnya kita sedang menata kembali apa yang kita yakini penting bagi anak-anak, remaja, dan seluruh jemaat.​


Kiranya pilihan kita menjadi wujud kasih yang nyata melalui keputusan iman—yang darinya arah iman gereja sedang dan akan terus dibentuk. Sebagaimana diingatkan oleh LeRoy Ford, seorang pendidik teologi Baptis, “Curriculum is never neutral; it always reflects what a community believes is worth knowing, becoming, and living.”


Melalui refleksi ini, gereja-gereja Baptis di Indonesia diajak untuk bersama-sama menata kembali pendidikan iman sebagai tanggung jawab bersama—berakar pada Firman Tuhan, setia pada Injil Kristus, dan dijalani dalam kebersamaan demi kesatuan serta pembangunan Tubuh Kristus.


*Artikel ini disarikan dari kajian historis–teologis–didaktis yang dikembangkan dalam bentuk artikel ilmiah, dengan tujuan menghadirkan literasi pendidikan iman Baptis yang dapat diakses oleh para pemimpin dan pelayan gereja.