Siapakah Gen Z itu, Bagian 2

18 Maret 2025, 07:44

Siapakah Gen Z itu, Bagian 2

32


12 Tips Menjadi Orang Tua di Era Digital


SIAPAKAH GEN Z ITU? (Bagian 2)

Tony Reinke, Desiring God Ministries*)


Artikel ini diterjemahkan oleh Harlinah, dan sudah disesuaikan untuk konteks Indonesia oleh Tim LLB. 



Saya berpikir, masalah orang tua yang paling biasa adalah beranggapan bahwa telepon seluler (ponsel) adalah gadget yang terisolasi. Tidaklah demikian. Ponsel adalah puncak dari semua teknologi komunikasi yang telah diperkenalkan kepada seorang anak sejak lahir. Pemberian ponsel adalah semacam kelulusan dari beberapa langkah teknologi yang dipetakan sebelumnya. 

Hati-hati, sekali Anda memberi anak ponsel dengan paket data seluler, Anda  beralih dari memiliki kontrol orang tua yang kuat atas pengamanan internet anak, menjadi hampir tidak memilikinya. Begini cara saya dan istri menguraikan langkah-langkah tersebut: 

Setelah Anda mengendalikan Wifi rumah – itu penting – Anda dapat mulai memperkenalkan teknologi yang dapat digunakan di dalam rumah. Di atas kertas, gambarlah sebuah kotak besar. Di atas sebelah kiri, tulis “usia 0” dan di sebelah kanan atas, tulis “usia 18”, kiri ke kanan. Ini anak pertama Anda  berusia 18 tahun dengan teknologi. 

Sekarang gambarlah secara diagonal dari bawah kiri ke kanan atas. Di beberapa titik awal, Anda mungkin memperkenalkan tablet dengan permainan mewarnai dan pendidikan. Pada usia 3 tahun mungkin, atau 5 tahun, atau 8 tahun pada satu langkah tangga. Kemudian langkah tangga berikutnya, perkenalkan tablet dengan video pendidikan, mungkin di usia 6 tahun. Pada beberapa titik lagi, Anda memperkenalkan komputer keluarga di ruang tamu untuk proyek menulis. Mungkin diusia 10 tahun. 

Langkah tangga berikutnya, Anda akan memperkenalkan sebuah ponsel seperti Gizmo atau telepon lipat. Langkah tangga berikutnya,  Anda izinkan pencarian Google di komputer untuk penelitian, mungkin di usia 12 tahun. 

Langkah tangga berikutnya, Anda mungkin memperkenalkan aplikasi Facebook atau Messenger untuk terhubung dengan teman-teman yang dipilih dari komputer. Langkah tangga berikutnya,datanglah batu penjuru, yakni sebuah ponsel sebagai langkah terakhir (usia 15, 16, 17, atau saya sarankan pada usia 18 tahun). Tetapi, Andalah yang memutuskan. 

Keuntungan dari hal tersebut ada dua hal:

Pertama, Anda dapat menyesuaikan langkah-langkah sesuai kebutuhan sambil menunjukkan kepada anak, di mana ponsel dapat digunakan sesuai dengan lintasan digital yang telah Anda tetapkan. Jika ia terbukti andal dan bijak dalam penggunaan Wifi di rumah, ia dapat melangkah ke arah selular di luar rumah. Itu menunjukkan kepadanya bahwa setia pada perkara-perkara kecil akan memimpin dia untuk setia pada perkara-perkara besar.

Kedua, ini juga mengingatkan orang tua bahwa sekali Anda memberi anak ponsel dengan paket data selular, Anda beralih dari memiliki kontrol orang tua yang kuat atas pengamanan internet anak, menjadi hampir tidak memilikinya. Anda bisa menggambar garis hitam tebal antara semua langkah pada sebelah kiri (Wifi di rumah) dan ponsel di sebelah kanan (website selular di mana saja). Itu adalah kelulusan. Transisi besar.

Seperti prinsip selimut: untuk semua usia dan semua perangkat, jauhkan semua layar sentuh Anda dari kamar tidur. Atau, setidaknya selama 12 jam, seperti antara jam 8 malam dan hingga 8 pagi, buatlah aturan tanpa TV, tanpa perangkat game, tablet, laptop atau telepon. Putuskan tuntutan sosial yang tak ada habisnya. Hentikan kecanduan game, pertahankan pola tidur. Pastikan semua perangkat diisi daya dalam semalam di satu tempat, bukan di kamar anak. Pusat pengisian daya yang simpel adalah di ruang ibu dan ayah, itulah solusi yang baik.


5. Menulis kontrak ponsel.

Ketika Anda pindah ke ponsel, tulislah kontrak perilaku yang diharapkan, jam malam, dan harapan keluarga yang berhubungan dengan telepon. Mintalah anak Anda membagikan info login mereka. Dan biasakanlah diri dengan langkah yang diperlukan untuk menjeda sementara atau menonaktifkan ponsel. Sebagian besar operator membuat hal ini mudah. Untuk orang tua yang bermasalah karena memperkenalkan ponsel terlalu cepat, baiklah, tidak ada kata terlambat untuk menetapkan kontrak telepon. 


6. Perhatikan, bagaimana setiap anak menanggapi era digital ini. 

Ini sangat menarik bagi saya. Istri saya dan saya memiliki tiga anak generasi Gen Z. Dua di antaranya remaja. Masing-masing dari mereka menggunakan media digital yang lengkap dan berbeda. 

Salah satu anak tanpa henti menonton video “Dude Perfect” 40 kali dan menghabiskan waktu berjam-jam. Anak lain yang akan membeli alat musik baru, menonton YouTube selama 30 menit dan menguasai akord dasar tanpa pelajaran berbayar. Dia sudah menyelesaikan okulele, keyboard, klarinet dan perkenalan itu mengarah ke kelas pelatihan formal. 

Saya senang dengan tombol YouTube untuk membuka keterampilan sentuhan baru pada anak saya. Dan terus terang, saya ingin anak-anak saya belajar dari tutorial YouTube secepat mungkin, tetapi tidak sampai mereka siap.

Setiap anak merespons secara berbeda. Beberapa remaja pasti menginginkan media sosial sehingga mereka dapat mengikuti 5.000 orang. Anak-anak lain akan menginginkan media sosial sehingga mereka dapat mengikuti 5 teman-teman dekatnya. Itu adalah penggunaan yang sangat berbeda. 

Orang tua dari setiap anak dapat mengatur secara unik berdasarkan apa yang Anda lihat pada anak tersebut. Dan ketika anak Anda mengklaim adanya ketidakadilan, silakan melihat kembali ke langkah-langkah tangga. Jelaskan, mengapa setiap anak di rumah berada pada langkah yang berbeda dalam perkembangan yang sama.


7. Masukkan kembali pola asuh pada kasih sayang.

Ponsel tidak menciptakan dosa baru. Peralatan ini hanya memperkuat godaan hidup dan mewujudkan godaan-godaan dalam piksel pada permukaan high definition. Godaan lama diberi tingkat ketertarikan, kecanduan, dan aksesibilitas baru. Artinya, ketegangan dan kecemasan orang tua pada era digital, datang dari kenyataan bahwa kita mengobarkan perang habis-habisan untuk menunjukkan kasih sayang kepada para remaja. 

Inilah yang sangat menakutkan. Mengasuh anak selalu menjadi peperangan untuk mengasihi anak kita. Tetapi era digital memperlihatkan kelemahan orang tua kita lebih cepat. 

Jika remaja kita tidak bisa menemukan kepuasan tertinggi mereka dalam Kristus, mereka akan mencari hal lain. Pesan itu selalu relevan. Itu hanya datang seperti palu hari ini sebab ada “hal lain” yang diwujudkan dalam kecanduan ponsel. 

Kita tidak hanya bermain dalam permainan kata, atau hanya mengatakan bahwa Yesus Kristus itu superior pada ibadah hari Minggu. Setiap hari kita harus memohon supaya Roh Kudus membuka hati remaja kita. Mereka harus menghargai Kristus di atas hal-hal yang kecil, yang sepele di era digital ini, atau hal-hak yang kecil, yang sepele itu akan mengambil alih mereka. Itulah sebabnya mengapa mengasuh anak tampak begitu mendesak hari ini.


8. Melaksanakan pemuridan digital.

Tidaklah cukup untuk memisahkan segelintir peribahasa dan menyebarkannya seperti benih umum dari nasihat bijak. Memuridkan remaja di era digital membutuhkan Kitab Suci yang ditanam dan dipupuk di dalam segenap hati. Dan ini karena kita berurusan dengan semua segi tentang apa yang diinginkan hati. Perang untuk kasih sayang di era digital ini memiliki peluang baru yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk memuridkan remaja, jika kita dapat beralih dari pencobaan ke teks alkitabiah di dalam Kristus. Inilah tantangan kami. 

Kepasifan orang tua kita telah terungkap di era digital. Saya tidak akan membahas hal ini karena buku saya membahas tentang 12 cara bahwa telepon kita mengubah kita (membentuk kita) dan kemudian menunjukkan kepada kita bagaimana untuk diperbarui dari Kitab Suci. Jika kita sebagai orang tua (dan pendeta) dengan rendah hati mengritik penyalahgunaan ponsel kita, maka kita bisa berbalik dan membantu anak kita. 

Era digital itu menakutkan dan melelahkan tetapi ini membuka peluang baru yang fenomenal untuk memuridkan remaja.


9. Sebagai sebuah keluarga, adakan makan malam, naik mobil dan liburan bersama. 

Adakanlah zona bebas telepon dengan makan malam, naik mobil dan liburan bersama keluarga. Saya selalu kagum bagaimana tekanan hidup kita dapat disampaikan di meja makan. Waktu bersama dengan tidak tergesa-gesa, mengurangi beban bersama di hari itu, sangatlah bermanfaat. Apa yang terjadi di sekolah? Mengenal anak sangat sering terjadi saat makan malam. Persekutuan ini terbawa dengan cara yang lebih intens pada liburan keluarga.


10. Tetaplah membangun gereja.

Statistiknya berada pada:  Gen Z sekarang adalah generasi yang paling kesepian di Amerika, lebih kesepian dari 72 lebih demografi. Twenge percaya bahwa ponsel menyebabkan Gen Z kesepian. Tetapi mungkin lebih bijaksana untuk melihat fenomena yang lebih besar sebelum iPhone.

Kelilingilah diri Anda dengan teknologi yang cukup. Anda tidak akan membutuhkan orang lain. Dapatkan gadget yang tepat dan Anda dapat melakukan apa saja. Tetapi begitu era teknologi membuat orang lain tidak perlu bagi Anda, Anda segera menekan bahwa Anda telah dianggap tidak diperlukan oleh orang lain. 

Ketika tak seorang pun membutuhkan Anda, kami melihat lonjakan bencana dalam kesepian sosial. Remaja Gen Z merasakan hal ini. Dan di zaman yang semakin terisolasi dan kesepian ini, media sosial “menawarkan obat yang tak berakar untuk penyakit yang tidak menentu hingga waktu yang tidak menentu,” (Kass, 95). Ponsel menjadi sebuah “obat penghilang rasa sakit” yang menjanjikan untuk menyelesaikan masalah kesepian kita, tetapi ia hanya menyelubungi rasa sakit, rasa sepi untuk beberapa saat saja. 

Kebutuhan terbesar remaja kita hari ini bukan batasan baru, ponsel bodoh yang baru, kontrak telepon dan bukan batasan. Kebutuhan terbesar mereka adalah komunitas yang beriman, di mana mereka dapat membimbing di dalam Kristus, mereka dapat melayani dan dilayani. Mereka perlu menemukan tempat yang diperlukan sebagai bagian yang sah dari gereja yang sehat. 

Tetaplah membangun iman, keluarga dan gereja. Dengarkanlah mereka. Jangan merendahkan mereka. Jangan menertawakan mereka. Bayangkan mereka sebagai generasi yang siap mengambil risiko dalam misi – daring dan luring.


*) Penulis adalah penulis senior www.desiringgod.org dan penulis sejumlah buku Kristen.